Tuesday, October 21, 2014

Para Pemimpin Yang Menangis Setelah Dilantik Menjadi Pejabat Atau Penguasa

Yang namanya manusia banyak yang menginginkan kemegahan dunia, baik itu berupa harta, pangkat kedudukan, maupun kekuasaan. Menduduki suatu jabatan tinggi adalah kebanggaan bagi sebagian orang.

Tapi bagi mereka yang sadar, kekuasaan dan jabatan adalah amanah yang besar dan akan dipertanggungjawabkan kelak di hari akhirat. Karena itu, tidak sedikit di antara mereka yang berduka dan menangis ketika selesai dilantik, karena mengenang besarnya tanggung jawab mereka di hadapan Allah kelak di kemudian hari.


Berikut beberapa pemimpin dunia Islam yang menangis setelah dilantik menjadi penguasa:

1. Umar bin Khattab
Umar bin khattab merupakan sahabat Nabi Muhammad SAW. Beliau diangkat sebagai khalifah kedua umat Islam menggantikan Abu Bakar As-Siddik.

Saat diangkat menjadi khalifah lewat musyawarah di antara para sahabat, Umar menangis. Baginya, jabatan yang diamanahkan kepadanya amatlah berat.

Di masa pemerintahan Umar, Islam mengalami kemajuan yang pesat. Perisa dan Romawi takluk di bawah bendera Islam. Umar dikenal sebagai pemimpin yang tegas dan sederhana.

2. Umar bin Abdul Aziz
Umar bin Abdul aziz merupakan salah satu khalifah Islam Dinasti Bani Umayyah. Umar masih satu keturunan dengan Umar bin Khattab dari garis ibu.

Saat dibaiat jadi khalifah menggantikan Sulaiman bin Abdul Malik, Umar tidak langsung menyanggupi. Dia menangis, memasukkan kepalanya dalam dua lututnya sambil berujar:

"Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rajiuun. Demi Allah, sungguh aku tidak meminta urusan ini sedikitpun, baik dengan sembunyi-sembunyi maupun dengan terang-terangan.?

Umar dikenal sebagai pemimpin yang sederhana. Di bawah pemerintahannya, umat Islam berhasil disatukan. Sama seperti Umar bin khattab, Umar Abdul aziz juga dikenal sebagai pemimpin yang gemar mengunjungi rakyatnya.

3. Abu Ubaidah
Abu Ubaidah merupakan sabahat Nabi muhammad yang dikenal karena keikhlasannya. Pada kekhalifahan Umar bin Khattab, dia diangkat menjadi panglima perang Islam, menggantikan Khalid bin Walid.

Saat menerima jabatan panglima, dia tak tahan meneteskan air mata. Ubaidah menangis karena baginya jabatan bukan lambang kemegahan.

"Jabatan bukanlah lambang kemegahan, tetapi tanggung jawab. Sekiranya tidak mampu ditunaikan, ia menjadi tanggung jawab di dunia dan akhirat. Saya merasa tidak layak memegang jabatan yang penting itu. Karena itulah saya menangis."
loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih