Sunday, September 25, 2016

Mengenal Gangguan Psikosomatik Dan Cara Mengatasinya

loading...
Pernahkah kamu merasa suatu hari ada yang aneh di tubuh kamu, misalnya merasa pusing, jantung berdebar, berkeringat dingin dan sebagainya, lalu kamu berfikir kamu sedang menderita suatu penyakit tertentu yang berbahaya. Lalu perasaan itu semakin kuat hingga kamu berfikiran buruk (misalnya takut mati dll). Lalu ketika kamu cek ke dokter atau laboratorium, kamu ternyata sehat-sehat saja dan hasil lab menunjukkan tidak ada tanda-tanda berbahaya pada tubuhmu?

Nah, bagi kamu yang pernah mengalami hal ini, ada baiknya kamu menenangkan diri dan baca tulisan di bawah ini.

Perlu kamu ketahui, di zaman serba modern sekarang ini, salah satu masalah yang banyak menimpa manusia adalah gangguang psikosomatik.

Apa itu gangguan psikosomatik?

Gangguan psikosomatik merupakan gangguan psikis dan emosional yang melibatkan pikiran dan tubuh, sehingga menyebabkan gangguan fisik. Gangguan ini tidak hanya terjadi pada orang dewasa, anak-anak pun bisa mengalaminya.

Beberapa keluhan fisik yang umumnya dirasakan penderita psikosomatik, di antaranya, sakit kepala, merasa lemah, banyak berkeringat, jantung berdebar, sesak napas, adanya gangguan pada lambung, diare, mual, dan lain sebagainya. Gejala tersebut dirasakan dengan frekuensi yang berulang, bahkan seringkali bisa kambuh dalam kurun waktu tertentu.

Penderita gangguan ini mengira ada kelainan pada fisiknya. Padahal, setelah melalui konsultasi medis, tidak ditemukan kelainan apa pun, karena pada dasarnya, para penderita psikosomatik ini sehat-sehat saja. Gejala yang dirasakan fisik tersebut ternyata hanya pengaruh dari faktor-faktor mental, seperti pikiran, stres, dan kecemasan.

Bahasa sederhananya: orang mengira rubuhnya menderita sakit, khususnya penyakit dalam, padahal ia sehat-sehat saja, Ternyata yang terganggu adalah psikologi atau fikirannya!

Hasil penelitian dalam kurun waktu terakhir menunjukkan bahwa hampir 80% pasien yang datang berobat adalah penderita psikosomatik. Meski demikian, gangguan psikosomatik tidak sama dengan perasaan grogi atau cemas. Perasaan grogi hanya menyebabkan ketidaknyamanan sesaat, ketika kejadian mendebarkan itu berlangsung.

Umumnya, gangguan psikosomatik disebabkan oleh beban pikiran yang tidak bisa keluar atau tersalurkan.

Selain itu, terlalu banyak membaca informasi di majalah ataupun dari internet, tentang berbagai macam penyakit terkait gejala yang dirasakan juga dapat memicu seseorang mengalami gangguan psikosomatik, karena para penderita gangguan ini selalu ragu dengan  kondisi fisiknya. (Nah, mulai sekarang, kurangilah mencari informasi di internet terkait gejala-gejala penyakit!!! Kalau kamu merasa sakit, lebih baik berkonsultasi dengan dokter!!!)

Salah satu penjelasan psikosomatik adalah bahwa emosi negatif mempengaruhi sistem otonom tubuh, hormon dan kekebalan terhadap beberapa penyakit. Depresi, kemarahan, dan isolasi sosial berkontribusi terhadap penyakit jantung. Stres di sisi lain, mempengaruhi asma, gangguan pencernaan dan banyak penyakit fisik lainnya.

Penelitian terbaru terus mengkonfirmasi peran faktor-faktor psikologis dalam penyakit jantung, john Hopkins University telah menemukan bahwa mahasiswa kedokteran yang mengungkapkan atau menyembunyikan kemarahan mereka, mudah marah, dan menggerutu tiga kali lebih mungkin untuk mengembangkan penyakit jantung awal dan lima kali lebih berpeluang untuk mendapat serangan jantung dibandingkan teman sekelas mereka yang lebih tenang.

Selain merasa ragu, mereka juga cenderung menanggapi respons tubuh secara negatif dan berlebihan, terutama terhadap suatu penyakit. Jadi, semakin banyak mereka membaca tentang gejala suatu penyakit, semakin banyak pula sensasi gejala yang akan mereka rasakan pada tubuh.

Mereka juga sangat sensitif dalam merespons rasa nyeri, daripada orang normal. Hal ini disebabkan ketidakseimbangan serotonin dan nor-epineprin yang merupakan neurotransmitter penting di otak.

Dalam bidang kesehatan jiwa, gangguan psikosomatik sebenarnya termasuk dalam bagian gangguan somatoform. Gangguan ini ditandai dengan adanya suatu keluhan fisik yang berulang yang disertai dengan permintaan pemeriksaan medis, meskipun sudah berkali-kali dilakukan dan hasilnya normal. Setidaknya pun ada gangguan fisik maka gangguan tersebut berbeda atau tidak dapat menjelaskan keluhan yang dikemukakan pasien. Jelasnya gangguan psikomatik adalah gangguan fisik yang diakibatkan masalah-masalah kejiwaan.

Biasanya gejala ini ada hubungannya dengan konflik dan perkembangan psikologis dari pasien, namun pasien biasanya menolak gagasan adanya hubungan antara penyakit yang diderita dengan problem atau konflik kehidupannya. Bahkan bila ditemukan adanya tanda depresi atau kecemasan pada pasien, pasien tetap menolak adanya hubungan tersebut.

Gangguan ini juga sering ditimbulkan pada pasien dengan gangguan kecemasan yang sangat seperti pada gangguan panik. Gejala jantung berdebar sangat sering dikeluhkan oleh pasien gangguan panik. Selain itu juga sering mengalami sesak napas. Kondisi ini juga meresahkan pasien karena ketika diperiksa ternyata tdak terdapat kelainan dalam organ tubuh pasien.

Pasien psikosomatik memang harus diberi psikoterapi untuk menggali masalah psikologis yang mereka alami, agar pikiran yang membebani mereka dihilangkan. Dengan begitu, keluhan fisik pasien juga diharapkan menghilang.

Beberapa Cara Penanganan Psikosomatik

Berikut beberapa strategi dapat dilakukan untuk mengurangi gangguan psikosomatik.

Pertama, membangun kebiasaan baru (misalnya seorang ibu yang memutuskan berhenti bekerja untuk mengurus anaknya, akhirnya merasa bosan lantaran tak ada kegiatan ketika anak–anaknya dewasa).

Kedua, menghindari perubahan sebagai upaya yang dilakukan untuk tidak melakukan perubahan yang tidak perlu atau dapat ditunda.

Ketiga, menyediakan waktu tertentu atau membatasi waktu untuk memfokuskan diri beradaptasi dengan stressor (penderita stress).

Keempat, pengelolaan waktu berguna untuk seseorang yang tidak dapat mengerjakan berbagai hal dalam waktu yang bersamaan.

Kelima, memodifikasi lingkungan. Mengatakan tidak secara tegas terhadap sesuatu yang tidak mungkin, merupakan cara lain dalam mengurangi kecemasan atau perasaan tidak menyenangkan. Juga mengurangi respon fisiologis terhadap stress, seperti latihan olahraga teratur, memperbaiki nutrisi dan diet, istirahat. Tetapi sebaliknya, tetap perlu meningkatkan respon perilaku dan emosi terhadap stress. Serta memanfaatkan sistem pendukung (keluarga dan teman).

Keenam, ini tips yang paling penting: bergembiralah! Yakinlah bahwa kamu sehat! Bersyukurlah kepada Tuhan! Selain itu, buatlah orang lain  berbahagia, berikan bantuan kepada sesama, kamu cari kenalanmu yang sedang membutuhkan, lalu bantulah ia dan buat ia tersenyum, dan bahagiakan dirimua dengan kebaikan seperti itu!


dari berbagai sumber
loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih