Wednesday, April 20, 2016

Sifat Hasad dan Dengki, Yang Membinasakan Semua Kebaikan... Mari Kita Singkirkan Dari Jiwa ...

loading...
Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāhu Ta'ālā pernah mengatakan :

 لا يخل جسد من حسد ولكن الكريم يخفيه واللئيم يبديه

"Tidak ada jasad yang selamat dari hasad, akan tetapi orang yang baik menyembunyikannya dan orang yang buruk menampakkannya."

Ini benar, hampir tidak ada seorangpun.

Hampir bisa kita katakan bahwa hati kita sulit selamat dari hasad.

Kita hasad kepada orang yang memiliki kenikmatan yang sama seperti kita.

Misalnya:
▪Seorang dokter akan hasad kepada dokter yang lain.
▪Yang punya toko akan hasad kepada yang punya toko yang lain.

Dokter tidak hasad kepada orang yang punya supermarket meskipun yang punya supermarket kaya raya, tapi dokter biasanya hasad kepada dokter yang sama, sesama profesi dokter.

Yang punya supermarket akan hasad kepada yang punya supermarket juga karena satu profesi.

▪Bahkan tukang becak mungkin hasad kepada tukang becak yang lain.
▪Demikian juga dengan ustadz akan hasad kepada ustadz yang lain.

Ustadz, dia tidak hasad kepada orang kaya, dia tidak hasad kepada yang memiliki profesi yang lain.

Jadi seprofesi biasanya ada saling hasad diantara mereka.

Kalau sudah muncul hasad dalam diri kita apakah kita berdosa?

Jawabannya: "Ya."

Kita berdosa kalau kita:

✖ membiarkannya bercokol dalam dada kita dan
✖ kita merawatnya
✖ bahkan mengembangkannya dalam dada kita.

Jadi kita berdosa karena hasad adalah penyakit hati.

Akan tetapi kalau kita:

☑ berusaha melawan,
☑ tidak suka dengan hasad tersebut,
☑ benci dengan hasad tersebut,
maka kita tidak berdosa.

Caranya bagaimana?

🔗 Pertama, kita harus benci hasad yang muncul dalam diri kita.
🔗 Yang kedua, kita tidak menampakkan cerminan dari hasad tersebut.

Oleh karenanya, Ibnu Qayyim rahimahullāhu tatkala menafsirkan firman Allāh:

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

"Aku berlindung kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā dari keburukan orang yang hasad tatkala dia sedang hasad."

(QS AlFalaq: 5)

Kata beliau:

لأن الرجل قد يكون عنده حسد، ولكن يخفيه ولا يظهر عليه بوجهه، ولا بقلبه ولا بلسانه ولا بيده

"Ini menunjukkan bahwa bisa jadi tatkala timbul hasad dalam diri seseorang, dia sembunyikan dan tidak nampak hasadnya tersebut di wajahnya, tidak nampak hasad tersebut dihatinya, tidak nampak hasad tersebut dilisannya dan tidak nampak hasad tersebut dalam tangannya."

Artinya, dia berusaha menahan dan dia tidak menunjukkan cerminan dari hasad tersebut, maka orang ini tidak berdosa.

Kata beliau:

فهذا لا يكاد يخلو منه أحد إلا من عصمه الله.

"Akan tetapi ini sangat sulit, hampir-hampir tidak ada orang seperti ini, kecuali orang yang dirahmati oleh Allāh, dijaga oleh Allāh."

Kebanyakan orang kalau sudah hasad, maka dia akan mencerminkan, mengekspresikan hasad tersebut dalam wajahnya atau dalam tangannya dan lisannya.

Kemudian dia menzhalimi saudaranya yang sedang dia hasad-i.

Oleh karenanya, jika kita terkena hasad, kita harus berusaha:

☑ Melawan hasad tersebut, kemudian kita berusaha memuji orang yang sedang kita hasad-i tersebut.

☑ Melawan hasad kita dengan kita puji orang tersebut, yang kita dengki sama dia, bahkan

☑ Memberikan hadiah kepada dia.

☑ Menyebutkan kebaikan-kebaikan dia, kita berusaha nelpon dia jika misalnya kita bersahabat dengan dia.

Sehingga hilanglah hasad tersebut dari diri kita.

✅Terkadang, kalau kita sudah kenal maka kita tidak jadi hasad.
✅Terkadang, kalau kita sudah bergaul, sudah ngobrol, hasad tersebut menjadi hilang.

❌Tetapi kalau kita pendam, maka setan akan berusaha membesarkan hasad tersebut.

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'ālā,

Maka, kita berlindung kepada Allāh dari bahaya hasad yang bisa akhirnya menghancurkan kebaikan-kebaikan yang kita miliki di akhirat kelak, yaitu tatkala kita mentransfer kebaikan kita kepada orang yang kita hasad-i.

Diantara hal yang memudahkan kita untuk menghilangkan hasad yaitu ingatlah bahwasanya kalau seorang sudah terkena hasad yang rugi yang pertama adalah dirinya sendiri.

Kalau kita dengki dengan orang lain sehingga ingin orang lain tersebut terkena musibah, sebenarnya musibah yang pertama adalah yang menimpa diri kita.
loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih