Orang Rajin Bersedekah Itu Bahagia, begini penjelasan ilmiahnya...

Pernahkah kita merasakan, ketika kita mengeluarkan sedekah kepada orang yang membutuhkan, ketika kita bisa membantu meringankan beban orang lain, lalu muncul perasaan bahagian entara dari mana dalam lubuk hari kita?;

Monday, December 11, 2017

Bersyukurlah... Jangan Terlalu Kuantitatif Menghitung Rezeki

Kita, entah sadar atau tidak, mungkin pernah “terlalu kuantitatif” dalam menghitung rezeki. Kita menghitung jumlah yang kita dapatkan dari satu pintu rezeki.

Akan tetapi, kita lupa mensyukuri keberkahan di balik jumlah yang sedikit itu. Pun, kita terluput menghitung rezeki yang diberikan oleh Allah tak henti-henti dari pintu-pintu yang lain.

Kita, menghitung penghasilan bulanan suami. Ternyata jumlahnya sangat sedikit dibandingkan yang kita angan-angankan.

Akan tetapi, kita lupa, Allah beri kita kesehatan sehingga tak perlu kita merogoh saku dalam-dalam untuk bolak-balik ke dokter.

Pun, kita lupa, Allah beri kita tempat berteduh yang menyenangkan. Meskipun hanya mengontrak rumah orang, si pemilik rumah adalah orang yang murah hati, jujur, dan menjaga amanah. Beliau bukan orang yang suka tiba-tiba menaikkan harga kontrakan. Beliau pun selalu lapang dada bila kita meminta kelonggaran tempo pembayaran.

Kita, menghitung uang kita. Ternyata tak cukup untuk membeli pelengkapan rumah tangga impian kita.

Akan tetapi, kita lupa, Allah tak memberi kita mesin cuci tetapi Allah beri kita sepasang tangan yang sempurna dan kuat mengucek baju setiap hari.

Padahal di belahan bumi yang lain, seseorang yang rumahnya megah dan hartanya melimpah, sedang terbaring merenungi kedua tangannya yang tak lagi mampu digerakkan; entah karena kecelakaan, entah karena sakit yang tak kunjung sembuh.

Kita, menengok celengan kita. Isinya tak seberapa dibandingkan sederet barang-barang impian kita. Manalah mampu terbeli dengan isi celengan yang hanya recehan 500 rupiah.

Akan tetapi, kita lupa, Allah jaga orang tua dan sanak saudara kita di kampung halaman.

Hidup mereka berkecukupan, sehat jiwa-raga, dan berada di atas hidayah Islam.

Akankah kita rela, bila Allah menghujani kita dengan jutaan lembaran 100.000 rupiah dari atas langit-Nya, lalu Dia berikan sakit bertubi-tubi ke keluarga yang kita cintai di sana. Belum lagi berhenti penyakit di badan mereka, kita diuji dengan murtadnya mereka.

Sanggupkah kita menukar jumlah yang sedikit dengan hal-hal yang tak ternilai harganya?

Bersyukurlah...

Syukur adalah salah satu inti kebahagiaan.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab  di awal kitab beliau, Al-Qawa’idul Arba’ menyatakan:

أسأل الله الكريم رب العرش العظيم أن يتولاك في الدنيا والآخرة، وأن يجعلك مباركا أينما كنت، وأن يجعلك ممن إذا أعطي شكر، وإذا ابتلي صبر، وإذا أذنب استغفر، فإن هذه الثلاث عنوان السعادة

“Saya memohon kepada Allah yang Mahamulia, Rabb yang Maha Agung, pemilik ‘arsy. Semoga Dia menjagamu di dunia dan di akhirat. Semoga Dia menjadikanmu penuh berkah di mana pun engkau berada. Semoga Dia menjadikanmu orang yang selalu bersyukur ketika diberi rezeki, selalu bersabar ketika diuji, dan selalu ber-istigfar bila berbuat dosa. Karena tiga hal itu adalah inti kebahagiaan.”

Bersyukurlah...

Berhentilah “terlalu kuantitatif” dalam menghitung rezeki yang dilimpahkan Allah untuk kita.
Ingatlah, sebanyak apa pun jari yang kita gunakan untuk menghitung rezeki dari Allah, kita tak akan sanggup.

Kita tak akan sanggup menghitungnya.

Kita tak akan sanggup.

وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ الإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung niikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34)

Bersyukurlah.

Berusahalah untuk selalu bersyukur, dan mohonlah hidayah dari Allah agar Dia berkenan membantu kita agar selalu bersyukur

اَلَّلهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, bantulah aku agar selalu berzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.” (HR. Abu Daud dan An-Nasa’i; hadits shahih)

*

Penyusun: Athirah Mustadjab.
loading...

Thursday, December 7, 2017

Hukum Bersikap Sombong Kepada Orang Yang Sombong

Kesombongan merupakan perbuatan yang amat tercela dalam Islam. Bahkan, Rasulullah Saw dalam sebuah haditnya mengatakan:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
"Tidak akan masuk Surga seseorang yang di dalam hatinya ada kesombongan walau sebesar atom".  (HR Muslim, Ahmad dan Tirmidzi)

Namun, dalam sebuah atsar perkataan ulama ada disebutkan: Dalam sebuah haditsTeks kalimatnya adalah,

التكبر على المتكبر صدقة

“Bersikap sombong kepada orang yang sombong adalah sedekah.”

Atau dalam redaksi yang lain dikatakan:

التكبر على المتكبر حسنة

“Bersikap sombong kepada orang yang sombong adalah perbuatan baik.”

Lantas apa sebenarnya maksud dari perkataan ini? Dan bagaimana sebenarnya hukum sombong kepada orang yang sombong menurut para Ulama?

Penting diingat, bahwa perkataan dia tas bukanlah hadis, melainkan hanya perkataan manusia yang memang banyak tersebar di masyarakat, sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Ajluni dalam kitabnya, Kasyful Khafa, dengan menukil keterangan dari Al-Qari. Kemudian, Al-Qari mengatakan, “Hanya saja, maknanya sesuai dengan keterangan beberapa ulama.”

Penulis kitab Bariqah Mahmudiyah mejelaskan,
“Bersikap sombong kepada orang yang sombong adalah sedekah, karena jika kita bersikap tawadhu di hadapan orang sombong maka itu akan menyebabkan dirinya terus-menerus berada dalam kesesatan. Namun, jika kita bersikap sombong maka dia akan sadar. Ini sesuai dengan nasihat Imam Syafi’i, ‘Bersikaplah sombong kepada orang sombong sebanyak dua kali.’ 
Imam Az-Zuhri mengatakan, ‘Bersikap sombong kepada pecinta dunia merupakan bagian ikatan Islam yang kokoh.’

Imam Yahya bin Mu’adz mengatakan, ‘Bersikap sombong kepada orang yang bersikap sombong kepadamu, dengan hartanya, adalah termasuk bentuk ketawadhuan.'”

Sementara, ulama yang lain mengatakan, “Terkadang bersikap sombong kepada orang yang sombong, bukan untuk membanggakan diri, termasuk perbuatan terpuji. Seperti, bersikap sombong kepada orang yang kaya atau orang bodoh (yang sombong).”

Tapi perlu diingat, kesombongan yang dimaksud dalam hal ini adalah bersikap sombong dengan anggota tubuh, yaitu dengan  dengan niat untuk memberikan pelajaran agar orang sombong tersebut sadar akan kesombongannya, dan di dalam hati tetap meyakini bahwa di sisi Allah bisa jadi orang tersebut lebih mulia darinya.  Misalnya saja ada orang kaya yang sombong, maka sudah seharusnya kita juga menjaga kemuliaan diri dengan tidak merendah di hadapannya, tidak meminta-minta kepadanya, mengacuhkannya dan tidak menunjukakn seakan-akan kita butuh kepadanya. Begitupun juga orang yang sombong dengan kepintarannya, kekuatannya dan sebagainya. Pada hakikatnya sikap seperti itu bukanlah kesombongan jika hati tidak sombong dan dengan niat untuk menasihati.  Ia merupakan sebuah strategi dakwah agar orang sombong tersebut sadar.

Dalam pepatah melayu diajarkan bagaimana bersikap kepada orang yang sombong dengan kelebihan yang ia miliki. sebagaiman terungkap dalam pameo:

"Kalau engkau kaya, kayalah sendiri, kami tidak akan meminta..
Kalau engkau kuat, kuatlah sendiri, kami tidak akan berlindung.
Kalau engkau pintar, pintarlah sendiri, kami tidak akan bertanya"

Perkataan Imam Ali bin Abi Thalib yang bermakna:
Sombong kepada orang yang sombong, itulah tawadhu yang sebenarnya
Terkait kesombongan ini, kita teringat kisah tentang Syaikh Al-Mahalli. Disebutkan bahwa Syeikh Al-Mahalli setiap kali berada di hadapan murid-muridnya, beliau memerintahkan mereka untuk mempelajari materi yang akan dibahas dan kemudian beliau meninggalkan mereka.  Tak lama setelah itu beliau kembali menemui mereka dan menjelaskan materi yang mereka pelajari.

Melihat hal ini, salah seorang muridnya yang cerdas berkata,

“Sang Syeikh (guru) selalu bergegas meninggalkan kami di awal pelajaran pasti karena sebuah urusan penting.”

Ketika Syeikh Mahalli meninggalkan mereka seperti biasanya, murid itu  pun membuntutinya. Ternyata ia mendapati Syeikh Mahalli memikul geriba berisi air dan memberikannya kepada para wanita tua yang lemah dan tak mampu mengambil air sendiri.

Melihat hal ini sang murid berkata kepadanya,

“Mengapa engkau meninggalkan kami di awal pelajaran dan melakukan semua ini?”

“Sesungguhnya dalam diri seorang guru (pengajar) terdapat perasaan mulia, dan bahaya serta bisikan buruk yang terlintas saat mengajar sangat banyak.  Sebagaimana kamu lihat, sesungguhnya aku hanyalah seorang penimba dan pengangkut air.  Dengan cara seperti inilah aku dapat mematahkan perasaan mulia yang ada dalam hatiku.  Dan tugas mengambil air inilah yang kuharapkan pahalanya di sisi Allah,” jawab Syeikh Mahalli.

Allahu a’lam.

loading...

[Tips Parenting]: Jauhkan Anakmu Dari Kemudahan

Seorang mahasiswi mengeluh. Dari SD hingga lulus S-1, ia selalu juara. Namun kini, di program S-2, ia begitu kesulitan menghadapi dosennya yang menyepelekannya. Judul tesisnya selalu ditolak tanpa alasan yang jelas. Kalau jadwal bertemu dibatalkan sepihak oleh dosen, ia sulit menerimanya.

Sementara itu, teman-temannya, yang cepat selesai, jago mencari celah. Ia menduga, teman-temannya yang tak sepintar dirinya itu "ada main" dengan dosen-dosennya. "Karena mereka tak sepintar aku," ujarnya.

Banyak orangtua yang belum menyadari, di balik nilai-nilai tinggi yang dicapai anak-anaknya semasa sekolah, mereka menyandang persoalan besar: kesombongan dan ketidakmampuan menghadapi kesulitan. Bila hal ini saja tak bisa diatasi, maka masa depan ekonominya pun akan sulit.

Mungkin inilah yang perlu dilakukan orangtua dan kaum muda: belajar menghadapi realitas dunia orang dewasa, yaitu kesulitan dan rintangan.

Hadiah Orangtua

Psikolog Stanford University, Carol Dweck, yang menulis temuan dari eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success, menulis, "Hadiah terpenting dan terindah dari orangtua pada anak-anaknya adalah tantangan".

Ya, tantangan. Apakah itu kesulitan-kesulitan hidup, rasa frustrasi dalam memecahkan masalah, sampai kegagalan "membuka pintu", jatuh bangun di usia muda. Ini berbeda dengan pandangan banyak orangtua yang cepat-cepat ingin mengambil masalah yang dihadapi anak-anaknya.

Kesulitan belajar mereka biasanya kita atasi dengan mendatangkan guru-guru les, atau bahkan menyuap sekolah dan guru-gurunya. Bahkan, tak sedikit pejabat mengambil alih tanggung jawab anak-anaknya ketika menghadapi proses hukum karena kelalaian mereka di jalan raya. Kesalahan mereka membuat kita resah. Masalah mereka adalah masalah kita, bukan milik mereka.

Termasuk di dalamnya adalah rasa bangga orangtua yang berlebihan ketika anak-anaknya mengalami kemudahan dalam belajar dibandingkan rekan-rekannya di sekolah.

Berkebalikan dengan pujian yang dibangga-banggakan, Dweck malah menganjurkan orangtua untuk mengucapkan kalimat seperti ini: "Maafkan Ibu telah membuat segala sesuatu terlalu gampang untukmu, Nak. Soal ini kurang menarik. Bagaimana kalau kita coba yang lebih menantang?"

Jadi, dari kecil, saran Dweck, anak-anak harus dibiasakan dibesarkan dalam alam yang menantang, bukan asal gampang atau digampangkan. Pujian boleh untuk menyemangati, bukan membuatnya selalu mudah.

Saya teringat masa-masa muda dan kanak-kanak saya yang hampir setiap saat menghadapi kesulitan dan tantangan. Kata reporter sebuah majalah, saya ini termasuk "bengal". Namun ibu saya bilang, saya kreatif. Kakak-kakak saya bilang saya bandel. Namun, otak saya bilang "selalu ada jalan keluar dari setiap kesulitan".

Begitu memasuki dunia dewasa, seorang anak akan melihat dunia yang jauh berbeda dengan masa kanak-kanak. Dunia orang dewasa, sejatinya, banyak keanehannya, tipu-tipunya. Hal gampang bisa dibuat menjadi sulit. Namun, otak saya selalu ingin membalikkannya.

Demikianlah, hal-hal sepele sering dibuat orang menjadi masalah besar. Banyak ilmuwan pintar, tetapi reaktif dan cepat tersinggung. Demikian pula kalau orang sudah senang, apa pun yang kita inginkan selalu bisa diberikan.

Panggung Orang Dewasa

Dunia orang dewasa itu adalah sebuah panggung besar dengan unfair treatment yang menyakitkan bagi mereka yang dibesarkan dalam kemudahan dan alam yang protektif.

Kemudahan-kemudahan yang didapat pada usia muda akan hilang begitu seseorang tamat SMU. Di dunia kerja, keadaan yang lebih menyakitkan akan mungkin lebih banyak lagi ditemui.

Fakta-fakta akan sangat mudah Anda temui bahwa tak semua orang, yang secara akademis hebat, mampu menjadi pejabat atau CEO. Jawabannya hanya satu: hidup seperti ini sungguh menantang.

Tantangan-tantangan itu tak boleh membuat seseorang cepat menyerah atau secara defensif menyatakan para pemenang itu "bodoh", tidak logis, tidak mengerti, dan lain sebagainya.

Berkata bahwa hanya kitalah orang yang pintar, yang paling mengerti, hanya akan menunjukkan ketidakberdayaan belaka. Dan pernyataan ini hanya keluar dari orang pintar yang miskin perspektif, dan kurang menghadapi ujian yang sesungguhnya.

Dalam banyak kesempatan, kita menyaksikan banyak orang-orang pintar menjadi tampak bodoh karena ia memang bodoh mengelola kesulitan. Ia hanya pandai berkelit atau ngoceh-ngoceh di belakang panggung, bersungut-sungut karena kini tak ada lagi orang dewasa yang mengambil alih kesulitan yang ia hadapi.

Di Universitas Indonesia, saya membentuk mahasiswa-mahasiswa saya agar berani menghadapi tantangan dengan cara satu orang pergi ke satu negara tanpa ditemani satu orang pun agar berani menghadapi kesulitan, kesasar, ketinggalan pesawat, atau kehabisan uang.

Namun lagi-lagi orangtua sering mengintervensi mereka dengan mencarikan travel agent, memberikan paket tur, uang jajan dalam jumlah besar, menitipkan perjalanan pada teman di luar negeri, menyediakan penginapan yang aman, dan lain sebagainya. Padahal, anak-anak itu hanya butuh satu kesempatan: bagaimana menghadapi kesulitan dengan caranya sendiri.

Hidup yang indah adalah hidup dalam alam sebenarnya, yaitu alam yang penuh tantangan.

Dan inilah esensi perekonomian abad ke-21: bergejolak, ketidakpastian, dan membuat manusia menghadapi ambiguitas. Namun dalam kondisi seperti itulah sesungguhnya manusia berpikir. Dan ketika kita berpikir, tampaklah pintu-pintu baru terbuka, saat pintu-pintu hafalan kita tertutup.

Jadi inilah yang mengakibatkan banyak sekali orang pintar sulit dalam menghadapi kesulitan.

Maka dari itu, pesan Carol Dweck, dari apa yang saya renungi, sebenarnya sederhana saja:
Orangtua, jangan cepat-cepat merampas kesulitan yang dihadapi anak-anakmu.

Sebaliknya, berilah mereka kesempatan untuk menghadapi tantangan dan kesulitan.

[Dikutip dari tulisan Rhenald Kasali via WhatsApp]
loading...

Wednesday, December 6, 2017

Tahukah Anda? Sebelum Dijajah Spanyol, Filipina Dipimpin Perantau Minangkabau

ARMADA SPANYOL menamai negeri yang baru mereka kuasai itu; Philipina—sebagai penghormatan kepada King Philip, suami Tuan Putri Joanna. Jauh sebelum itu, negeri itu dipimpin oleh seorang pengembara dari Minangkabau.
Armada laut Spanyol pimpinan Ferdinand Magellan mendapat perlawanan dari armada Sultan Sulaiman yang menguasai Pulau Seleudung (kini Luzon, Filiphina).

Di antara penyebab pecahnya pertempuran itu karena Spanyol yang baru datang langsung mengklaim bahwa itu wilayah mereka.

Dengan menancapkan bendera Spanyol yang bertanda salib, penguasa setempat yang notabene Islam lantas memberikan perlawanan. Masa-masa itu memang masih kental nuansa Perang Salib.

Siapa penguasa Islam di negeri yang hari ini bernama Filiphina itu?

Langkah penyiaran Islam (di Filiphina--red) dimulai anak-anak Minang yang bertualang di lautan dan kemudian dilanjutkan oleh para Sayid dan para Syarif turunan Arab.

Begitu dilansir dari Naqeeb Saleeby dari Filiphina dalam karyanya Ethonological Studies in Moro History, Law and Religion (Department of Interior Ethnilogical Survey Publications, Berau of Republic Printing, 1905), yang mengulas sejarah Sulu dan Mindanao serta silsilah Kesultanan di sana.

Karya itu dicuplik oleh Sayid Alwi bin Tahir Al Haddad, Mufti Kerajaan Johor (Malaya) dalam karya berbahasa Arab yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul Sejarah Perkembangan Islam di Timur Jauh oleh S. Muhammad Dija Shahab. Diterbitkan oleh Almaktab Addaimi, pada 1957.

Di halaman 37 dan 41 buku itu dapat kita sarikan bahwa Raja Baginda dan Makhdum Awal yang mempunyai kapal sendiri mengelilingi pulau-pulau dan menyiarkan agama Islam.

Hingga hari ini, makam Makhdum Awal masih bisa dilihat di Pulau Tapu, Filipina.

Raja Baginda, sebagaimana dicatat sejarah, adalah pengembara dari Minangkabau yang menyiarkan agama Islam dan menjadi Raja Sulu dan Wansa.

Raja Baginda punya murid bernama Sayid Syarif Abubakar anak Sayid Syarif Ali Zainal Abidin bin Ali Albagir, saudara Sayid Syarif Kabungsuan dari Johor.

Ia pernah jumpa Makhdum Awal di Sumatera dan menulis buku Addur-al-Mandzum yang berisi 90 pasal ke-Islaman untuk pedoman dan contoh bagi Sultan Iskandar Syah dari Johor.

Sayid Syarif Abubakar lah yang mendirikan masjid pertama di Sulu, Sandakan, pada 854-855 Hijriah atau 1450-1480 Masehi.

Dia menikah dengan Paramesuli, anak perempuan Raja Baginda. Sebelum menikah, Abubakar sudah terlebih dahulu sudah menjadi kepala para penghulu dan imam.

“Di situ ia beristrikan Paramesuli anak Raja Baginda...tentu dapat dipercayai bahwa Sayid Syarif Abubakar itu diangkat sebagai pengganti Raja Baginda yang tidak mempunyai anak laki-laki. Raja sendiri sudah menyerahkan kepadanya semua kekuasaan yang ada padanya atas seluruh Buansa dan Sulu. Ia diangkat oleh Raja sebagai walinya. Semuanya dilakukan dengan persetujuan para pembesar dan orang-orang berkuasa. Orang-orang Sulu menamakannya Sultan Syah Syarif Al Hasyimi dan ia dipanggilkan Sultan,” sebagaimana tertera di halaman 57.

Nah, dari trah inilah armada Sultan Sulaiman yang menghadang armada Spanyol berasal.

Dalam perang pada 27 April 1521 itu, Lapu Lapu seorang pemuka Islam di wilayah setempat berhasil membunuh Ferdinand Magellan.

“Telah gugur pemandu, cahaya, dan pendukung kami,” tulis Pigafetta, penulis ikut serta dalam ekspedisi Spanyol sewaktu mencari rempah-rempah.

Jurnal Pigafetta yang legendaris itu “pada gilirannya tiba di tangan vikaris asal Inggris, Samuel Purchas, yang antologi eksplorasi monumentalnya berjudul Purchas His Pilgrimate, menginspirasi petualangan-petualangan pada pelaut dan saudagar Inggris mencari Kepulauan Rempah, negeri yang hari ini bernama Indonesia.

Armada Spanyol berikutnya dapat merebut Pulau Seleudung. Dan mengganti nama tempat itu menjadi Luzon. Menasranikan penduduknya, sesuai dengan Inter Devinae Caetera dari Paus Alexander VI.

Dan lalu menamai negeri yang baru dikuasai itu Philipina—sebagai penghormatan kepada King Philip, suami Tuan Putri Joanna.

Pada 1886, di lokasi terbunuhnya Magellan, pemerintahan Spanyol semasa Isabella II membangun monumen untuk mengagungkan Magellan sebagai pemimpin besar ekspansi Spanyol.

Dan di tempat yang sama, Perhimpunan Historis Filipina, pada 1951 membangun monumen mengagungkan Lapu Lapu sebagai seorang pahlawan yang menentang agresi Barat.

Bagaimana pun, bagi penduduk setempat yang kini mayoritas Nasrani, Lapu Lapu adalah pahlawan kebanggan mereka. Dan Ferdinand Magellan, bagaimana pun juga adalah orang yang membawa ajaran Kritus ke Filiphina. (wow/jpnn)

Sumber: https://www.jpnn.com/news/sebelum-dikoloni-spanyol-filipina-dipimpin-perantau-minang?
loading...

Sunday, December 3, 2017

Apakah Kamu Benar-Benar Telah Siap Untuk Menikah...? Baca Dulu...

Para single perlu merenung dan memikirkan masak-masak seperti apa kondisi orang setelah menikah. Coba bayangkan beberapa hal yang terjadi setelah menikah berikut ini, dan tanyakan kepada diri sendiri apakah anda sudah siap untuk menghadapinya;
.
1. Apakah Anda Siap Melepas Kebebasan? Setelah menikah, anda tidak lagi memiliki kebebasan itu.

2. Apakah Anda Siap Berbagi dalam Semua Hal? Dulu anda naik motor atau mobil sendiri, bisa keluar malam sendiri, kini anda tidak bisa bebas lagi.

3. Apakah Anda Siap Menaiki “Roller Coaster” Kehidupan? Akan ada banyak sekali suka dan duka yang akan dijumpai dalam kehidupan pernikahan.

4. Apakah Anda Siap Terkejut Karena Menemukan Hal Baru dari Pasangan?Anda akan terus dikejutkan dengan banyak hal baru dari pasangan yang belum pernah anda ketahui sebelumnya.

5. Apakah Anda Siap Melihat Sisi Paling Jelek dari Pasangan? Setelah menikah anda bertemu setiap saat. Tidak ada waktu untuk bersiap diri, karena anda selalu berada bersama pasangan setiap saat.

6. Apakah Anda Siap Bertemu Setiap Saat?Yakin, anda tidak bosan? Jika siap, berarti anda sudah siap menikah.

7. Apakah Anda Siap Menyelesaikan Masalah Secara Bersama? Setelah menikah, anda harus menyelesaikan masalah bersama pasangan. Karena anda berdua menjadi bagian yang utuh dan tak terpisahkan.

8. Apakah Anda Siap Menemukan Tujuan Paling Hakiki dari Pernikahan? Setelah menikah, anda akan menemukan makna dan tujuan pernikahan secara lebih nyata.

9. Apakah Anda Siap Menghadapi Kerepotan Mengurus Anak?Keintiman anda sebagai suami istri menjadi “terganggu” oleh kerepotan mengurus bayi.

10. Apakah Anda Siap Terikat oleh Hak dan Kewajiban?Anda terikat dengan hak dan kewajiban bersama pasangan. Setelah muncul anak, bertambah lagi beban dan kewajiban itu.

Bagaimana? Apakah kamu sudah benar-benar siap?

Bersiaplah, karena semua menikah itu adalah ibadah...
loading...