Orang Rajin Bersedekah Itu Bahagia, begini penjelasan ilmiahnya...

Pernahkah kita merasakan, ketika kita mengeluarkan sedekah kepada orang yang membutuhkan, ketika kita bisa membantu meringankan beban orang lain, lalu muncul perasaan bahagian entara dari mana dalam lubuk hari kita?;

Saturday, November 7, 2015

Mengungkap Rahasia Sungai Nil

Nil adalah sungai terpanjang di dunia, membentang dari jantung Afrika hingga bermuara di Delta Nil di utara Mesir. Sungai ini tercatat dalam sejarah kuno dan temaktub keberadaannya dalam kitab suci.

‘Apabila tidak ada Nil, maka tidak ada Mesir’, demikian kata sejarawan Yunani kuno. Ungkapan tidak sepenuhnya salah. Ungkapan ini hendak menggambarkan betapa Mesir sangat bergantung dengan Nil. Hampir seluruh kehidupan Mesir, bersumber dari Sungai Nil. Ini juga barangkali, di antara faktor mengapa ketika disebut Nil, maka yang terlintas adalah Mesir, tidak Negara-negara lainnya (padahal Negara-negara yang dilalui Nil mencapai sembilan Negara).

Keberadaan Nil, sebenarnya bukan semata dari segi sumber kehidupan masyarakat Mesir semata, akan tetapi ada yang lebih luar biasa dari itu. Sungai Nil merupakan di antara sungai ‘suci’ tiga agama besar, Islam, Yahudi dan Nashrani.

Bagi kaum Yahudi, Sungai Nil adalah sungai sangat bersejarah, karena Nabi Musa as ketika masih bayi merah dihanyutkan oleh ibunya yang bernama Nyukabad ke sungai Nil. Dalam ajaran Islam dan Kristian pun demikian. Sungai ini memiliki arti penting, sebab sosok Musa as, merupakan seorang Nabi yang diutus oleh Allah dalam dua agama dimaksud .

Bukan hanya itu, sungai Nil juga disebutkan dalam tiga kitab suci agama, Yahudi, Kristian dan Islam. Dalam Taurat (dalam pengertian Perjanjian Lama), Bible, dan al-Quran, sungai Nil merupakan satu-satunya sungai disebutkan secara jelas.

Bahkan, Dalam al-Quran, sungai Nil merupakan satu-satunya sungai yang disebutkan oleh Allah dalam al-Quran dalam pengertian khusus. Bukan hanya itu, sungai Nil juga dijabarkan dalam banyak hadits Shahih, dan termasuk di antara tanda kekuasaan Allah yang diperlihatkan kepada Nabi Muhamamd saw, ketika melakukan Mi’raj.

Karena kelebihan-kelebihan inilah, maka mengkaji sungai Nil menjadi sangat penting adanya. Bagaimana sebenarnya sungai Nil dalam agama Islam ini? Apa keistimewaan-keistimewaan sungai Nil ini, dan mengapa ia begitu istimewa? Inilah di antara beberapa pertanyaan yang hendak dijawab dalam tulisan ini.

Maklumat ringkas seputar sungai Nil
Sungai Nil merupakan sungai terpanjang di dunia. Panjangnya kurang lebih mencapai 6,696 km (4,160 batu). Ada sembilan Negara yang dilalui oleh sungai ini, yaitu: Mesir, Tanzania, Kenya, Zaire, Uganda, Ethiopia, Sudan, Rwanda dan Burundi. Namun demikian, setiap kali kita mendengar kata Nil, maka identik dengan Mesir, seolah Nil hanya berada di Mesir.

Hal ini boleh jadi karena banyak faktor, di antaranya karena pengaruh Nil sangat luar biasa terhadap Mesir dibandingkan dengan Negara-negara lainnya. Mesir sangat bergantung ke sungai Nil bukan semata dalam masalah ekonomi, pengairan dan pertanian, akan tetapi juga dalam masalah peradaban. Seluruh peradaban Mesir Kuno berawal dari dataran sekitar Nil. Untuk itulah, tidak heran apabila seorang ilmuwan bernama Herodotus mengatakan: “Mesir adalah hadiah pemberian sungai Nil” (Egypt is the gift of the Nile).

Selain itu, boleh jadi keidentikan Nil dengan Mesir karena erat kaitannya dengan peristiwa-peristiwa penting bernuansa agama, di mana Nabi Musa as dihanyutkan. Dan tentu kisah dihanyutkannya Nabi Musa as di sungai Nil ini ada dalam tiga kitab suci agama besar, Islam, Yahudi dan Nashrani. Untuk itulah, setiap kali mendengar nama Nil, maka identik dengan Mesir saja, dan tidak dengan yang lainnya.

Sungai Nil merupakan sungai yang sangat unik. Umumnya sungai-sungai itu mengalir ke arah timur atau ke arah barat, sementara Nil tidak demikian, ia membentang dari selatan ke utara. Menurut para ahli, hal ini dikarenakan sungai Nil berada pada garis 3, 30 derajat lintang selatan, sampai 31derajat lintang utara, atau dengan kata lain bahwa sungai ini memotong lebih dari 34,5 derajat garis lintang. Oleh karena itulah arahnya dari selatan menuju ke arah utara.

Selain itu, keunikan lainnya dari sungai Nil ini, ia mengalir melalui daerah-daerah yang beragam dengan iklimnya yang bermacam-macam. Di daerah hulu, sungai Nil bersumber dan mengalir dari daerah yang beriklim tropis dan berdataran tinggi. Kemudian melewati beberapa sumbernya yang lain di daerah semitropis. Lalu melewati daerah lembah pegunungan yang beriklim subtropis.

Dari arah Ethiopia yang beriklim sub-seasonal, salah satu sumbernya mengalir. Kemudian sungai Nil melewati daerah Sudan yang merupakan daerah yang penuh dengan hujan musim panas dan kekeringan musim dingin. Setelah itu menerobos membelah daerahpadang pasir yang ganas, dan bermuara di daerah Mesir yang beriklim laut tengah. Dengan demikian, sungai Nil mengalir dari daerah hijau yang terletak pada garis khatulistiwa ke daerah padang pasir yang sangat tandus di bagian utara benua Afrika. Dengan begitu, setiap Nil mengalir satu langkah, dia akan kehilangan sebagian airnya. Jadi semakin ke hilir, airnya semakin berkurang. Hal ini berbeda dengan sungai-sungai lain di dunia, di mana semakin ke hilir semakin banyak muatan airnya.

Imam at-Taifaasyi dalam bukunya Suja’ul Hudail mengatakan: “Tidak satu pun sungai di muka bumi ini yang disebutkan oleh Allah dalam al-Quran, selain sungai Nil”. Paling tidak, dalam al-Quran, Allah menyebutkan sungai Nil dalam dua ayat penting yang semuanya berkaitan dengan kisah dihanyutkannya Nabi Musa bayi oleh ibunya, Nyukabad, berdasarkan perintah Allah. Berikut firman Allah dimaksud:

وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ [القصص: 7]

Artinya: “Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah Dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya Maka jatuhkanlah Dia ke sungai (Nil). dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan men- jadikannya (salah seorang) dari Para rasul” (QS. Al-Qashash: 7).

إِذْ أَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّكَ مَا يُوحَى * أَنِ اقْذِفِيهِ فِي التَّابُوتِ فَاقْذِفِيهِ فِي الْيَمِّ فَلْيُلْقِهِ الْيَمُّ بِالسَّاحِلِ يَأْخُذْهُ عَدُوٌّ لِي وَعَدُوٌّ لَهُ وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّي وَلِتُصْنَعَ عَلَى عَيْنِي[طه: 38, 39].

Artinya:
"Yaitu ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang diilhamkan, yaitu: “Letakkanlah ia (Musa) di dalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), Maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir’aun) musuh-Ku dan musuhnya. dan aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku” (QS. Thaha: 38, 39).

Kata al-yamm dalam kedua ayat di atas, maknanya sama dengan kata al-bahr, yang berarti laut. Dan kata ‘laut’ yang dimaksud dalam kedua ayat di atas, para mufassirin telah sepakat, adalah Sungai Nil.

Imam at-Thabari misalnya dalam Tafsirnya, Jaamiul Bayaan fi Tafsiir al-Quran (20/30), bahwa yang dimaksud kata al-yamm adalah laut (al-bahr), dan yang dimaksud kata laut di sana adalah Sungai Nil.
Imam al-Baidhawi pun dalam Tafsirnya, Anwaarut Tanziil wa Asraarut Ta’wiil (4/283) mengatakan hal yang sama, bahwa  yang dimaksud kata al-yamm adalah al-bahr yang dimaksudkan adalah Nil.
Imam al-Alusy pun dalam Ruhul Ma’ani nya (20/45) mengatakan hal yang sama, bahwa yang dimaksudkan adalah sungai Nil.

Demikian juga dengan para ahli tafsir lainnya, sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahwa, para ahli tafsir sudah sepakat yang dimaksud dengan kata al-yamm dalam kedua ayat di atas adalah al-bahr (laut), dan yang dimaksud laut di sini adalah sungai Nil.

Ibnu Manzhur dalam Lisanul Arab (4/41 dalam maddah: ‘ bahr’) mengatakan:

وقد أَجمع أَهل اللغة أَن اليَمَّ هو البحر وجاءَ في الكتاب العزيز فَأَلْقِيهِ في اليَمِّ قال أَهل التفسير هو نيل مصر.

Artinya:
“Para ahli bahasa telah sepakat, bahwa  yang dimaksud dengan kata al-yamm adalah al-bahr (laut), hal ini sebagaimana disebutkan dalam al-Quran: “Maka hanyutkanlah dia ke laut (sungai Nil”. Para ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud ‘laut’ dalam ayat ini adalah Nil Mesir”.

Pertanyaan berikutnya, mengapa sungai Nil disebut dengan al-bahr (laut), bukankah laut itu airnya asin, sementara sungai air sungai nil tidak asin, melainkan tawar?

Untuk itu, mari kita lihat menurut para ahli bahasa, apa sebenarnya yang dimaksud dengan kata al-bahr (laut) itu. Apakah benar, bahwa kata al-bahr itu hanya untuk menunjukkan laut  yang airnya asin?

Ibnu Manzhur dalam Lisanul Arab (4/41)mengatakan:

( بحر ) البَحْرُ الماءُ الكثيرُ مِلْحاً كان أَو عَذْباً وهو خلاف البَرِّ سمي بذلك لعُمقِهِ واتساعه قد غلب على المِلْح حتى قَلّ في العَذْبِ وجمعه أَبْحُرٌ وبُحُورٌ وبِحارٌ …..إِنما سمي البَحْرُ بَحْراً لسعته وانبساطه ومنه قولهم إِن فلاناً لَبَحْرٌ أَي واسع المعروف قال فعلى هذا يكون البحرُ للملْح والعَذْبِ

Artinya:
“ (Bahr), kata al-bahr (laut) berarti air yang banyak, baik air itu asin maupun tawar. Laut merupakan kebalikan dari darat. Disebut demikian, karena kedalaman dan keluasannya. Dan laut umumnya digunakan untuk yang airnya asin, dan sedikit dipakai untuk yang airnya tawar. Bentuk jamak dari bahr adalah abhor, buhuur, dan bihaar…..Disebut bahr (laut), karena keluasannya. Oleh karena itu seseorang disebut melaut, maksudnya karena pengetahuannya yang sangat luas. Oleh karena itu, maka kata laut, mencakup pula untuk yang airnya asin dan tawar”.

Ibnu Asyur dalam tafsirnya at-Tahriir wat Tanwiir (11/4249) ketika menafsirkan ayat 19 dari surat ar-Rahman juga mengatakan:

والبحر : الماء الغامر جزءاً عظيماً من الأرض يطلق على المالح والعذب .

Artinya:
“Al-bahr (laut): adalah air yang melimpah yang memenuhi sebagian besar bumi, baik airnya asin maupun tawar”.

Di antara dalil bahwa kata laut (bahr) ini tidak mesti yang airnya asin, akan tetapi juga yang airnya tawar, adalah firman Allah dalamsurat Fatir ayat 12 yang berbunyi:

وما يستوي البحران هذا عذب فرات سائغ شرابه وهذا ملح أجاج  [ فاطر : 12 ]

Artinya:
“Dan tiada sama (antara) dua laut; yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit.” (QS. Fatir: 12).

Dalam ayat di atas disebutkan bahwa ada dua laut, yang satu airnya tawar dan yang satu lagi asin. Oleh karena itu, maka kata bahr(laut), bukan semata untuk yang airnya asin, akan tetapi juga mencakup yang asin dan tawar.

Lalu mengapa Nil disebut Bahr juga? Nil, sekalipun airnya tawar tetap disebut bahr, karena dari segi luas dan dalamnya, sebagaimana dikatakan Ibnu Manzhur di atas. Dengan demikian, maka satu-satunya sungai yang disebut sebagai laut dalam al-Quran, hanyalah sungai Nil, sebagaimana disebutkan dalam surat al-Qasash ayat 7 dan surat Thaha ayat 38 dan 39 di atas. Wallaahu a’lam bis shawab.

Sungai Nil dalam hadits-hadits Nabi saw
Bukan hanya dalam al-Quran, sungai Nil juga disebutkan dalam banyak hadits Rasulullah saw. Di antaranya adalah dalam hadits shahih di bawah ini:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: (( سَيْحَانُ وَجَيْحَانُ وَالنِّيلُ وَالْفُرَاتُ كُلٌّ مِنْ أَنْهَارِ الْجَنَّةِ))  [رواه مسلم]

Artinya:
“Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda: “Seihan, Jeihan, Nil dan Efrat, semuanya adalah sungai-sungai syurga” (HR. Muslim).

عن أنس بن مالك قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( رفعت إلى السدرة فإذا أربعة أنهار نهران ظاهران ونهران باطنان فأما الظاهران النيل والفرات وأما الباطنان فنهران في الجنة فأتيت بثلاثة أقداح قدح فيه لبن وقدح فيه عسل وقدح فيه خمر فأخذت الذي فيه اللبن فشربت فقيل لي أصبت الفطرة أنت وأمتك)) [رواه البخاري]

Artinya:
“Anas bin Malik berkata, Rasulullah saw bersabda: “Lalu saya dibawa naik ke Sidratul Muntaha, dan saya melihat ada empat sungai, dua sungai nampak, dan dua sungai lagi masih tersembunyi. Adapun dua sungai yang nampak adalah sungai Nil dan Efrat, sedangkan dua sungai yang tersembunyi adalah dua sungai yang masih ada di dalam syurga (Seihan dan Jeihan). Kemudian, saya diberikan tiga  gelas, satu gelas berisi susu, satu gelas berisi madu dan satu gelas lagi berisi khamar (minuman keras). Saya lalu mengambil gelas yang berisi susu, kemudian saya meminumnya, lalu terdengar suara berkata kepada saya: “Kamu dan ummatmu telah sesuai dengan fitrah” (HR. Bukhari).

Dalam sebuah hadits Qudsi yang dinukil oleh Ibnu Zulaq dalam bukunya, Fadhail Mashr (hal 74), Allah berfirman:

يقول الله عز وجل: [ نيل مصر خير أنهاري في الجنة, أسكن عليه خيرتي من عبادي].

Allah berfirman: “Nil Mesir adalah sebaik-baik sungaiKu di syurga, kelak akan dihuni oleh hamba-hamba pilihanKu”.

Sungai Nil dalam pandangan para ulama

Imam Ka’ab al-Ahbar, sebagaimana dinukil oleh al-Khatib al-Baghdadi dalam bukunya Tarikh Baghdad (1/55), juga dinukil oleh Imam al-Harits dalam Musnad al-Harits atau lebih dikenal dengan Zawaid al-Haitsami (2/944) pernah mengatakan:

أربعة انهار من الجنة وضعها الله في الدنيا؛ فالنيل نهر العسل في الجنة والفرات نهر الخمر في الجنة، وسيحان نهر الماء في الجنة، وجيحان نهر اللبن في الجنة.

Artinya:
“Ada empat sungai syurga yang Allah berikan di dunia, yaitu: sungai Nil yang merupakan sungai madu di syurga, sungai Efrat yang merupakan sungai khamar di syurga, sungai Seihan yang merupakan sungai air di syurga, dan sungai Jeihan yang merupakan sungai susu di syurga kelak”.
Dalam riwayat lain sebagaimana dinukil oleh Khatib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad (1/56), juga dalam Tarikh Masr karya Ibn Abdil Hakam, Ka’ab al-Ahbar juga pernah berkata: “Sungai Nil adalah sungai madu di syurga, sungai Deglah adalah sungai susu di syurga, sungai Efrat adalah sungai khamar di syurga, dan sungai Seihan adalah sungai air di syurga kelak”.

Amer bin Ash, sebagaimana dinukil oleh Imam as-Suyuthi dalam Husnul Muhadharah (2/302), juga pernah mengatakan:

نيل مصر سيد الأنهار، سخر الله له كل نهر بالمشرق والمغرب، فإذا أراد الله أن يجري نيل مصر أمر كل نهر أن يمده، فأمدته الأنهار بمائها، وفجر الله له الأرض عيونا، فإذا انتهت جريته إلى ما أراد الله، أوحى الله إلى كل ماء ان يرجع إلى عنصره.

Artinya:
“Sungai Nil Mesir adalah rajanya sungai-sungai, Allah menundukkan semua sungai di timur dan di barat kepadanya. Apabila Allah berkehendak untuk mengalirkan sungai Nil Mesir, maka Allah memerintahkan semua sungai untuk mengalirkan airnya, maka semua sungai pun mengalirkannya, dan Allah mengeluarkan untuk sungai Nil mata air-mata air bumi. Dan apabila Nil Mesir tidak lagi mengalirkan airnya sebagaimana kehendak Allah, maka Allah memerintahkan semua air untuk kembali ke asalnya”.

Ibnu Abbas, sebagaimana dinukil oleh al-Khatib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad nya, juga oleh Imam as-Suyuthi dalam Husnul Muhadarah nya (2/303), pernah berkata: “Allah menurunkan lima sungai syurga ke muka bumi ini: Seihan, Jeihan, Deglah, Efrat dan Nil, Allah menurunkannya dari salah satu dari beberapa mata air syurga, dari tingkatakan paling bawah dari tingkatan-tingkatannya, di atas dua sayap Jibril. Allah mengalirkannya di muka bumi, sehingga membawa banyak manfaat untuk manusia, hal ini sesuai dengan firmanNya: “Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi…” (QS. Al-Mu’minuun: 18). Dan ketika Ya’juj dan Ma’juj keluar nanti, Allah akan mengutus Jibril untuk mengangkat dari bumi al-Quran, ilmu, batu Hajar Aswad, batu yang berada di Maqam Ibrahim,  peti Nabi Musa as berikut isinya, dan lima sungai ini. Semuanya akan diangkat kembali ke langit, dan ini sesuai dengan firmanNya: “…dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa untuk menghilangkannya” (QS. Al-Mukminuun: 18). Ketika semua ini sudah diangkat dari muka bumi, maka manusia akan segera mengalami kehancuran”.

Ibnu Zulaq dalam Fadhail Masr (hal 76) pernah mengutip perkataan para ulama Mesir yang mengatakan: “Tidak ada satu pun sungai di muka bumi ini yang mengalir dari utara ke selatan, selain Sungai Nil (umumnya dari barat ke timur atau sebaliknya), tidak ada satu pun sungai yang sampai ke laut Romawi dan Laut China selain Sungai Nil Mesir, dan tidak ada  satu pun sungai di muka bumi ini yang alirannya menghadap kea rah selatan, selain sungai Nil Mesir”.

Ibnu Zulaq juga melanjutkan kutipannya: “Tidak ada satu pun sungai di muka bumi ini yang mengalir dengan derasnya pada waktu udara sangat panas—dimana sungai-sungai dan mata air-mata air berkurang bahkan berkering—selain Sungai Nil. Setiap kali udara dan matahari bertambah panas, maka Sungai Nil pun bertambah banyak airnya”.

“Tidak ada satu pun sungai di muka bumi ini yang airnya pasang juga surut secara teratur, selain Nil Mesir”.

Umar bin Khatab Mengirim surat untuk sungai Nil
Para ahli sejarah mencatat sebuah kejadian luar biasa, berupa surat dari seorang khalifah yang ditujukan bukan kepada raja atau penguasa lainnya, bukan juga kepada gubernur atau bawahannya, akan tetapi kepada sebuah sungai, sungai Nil. Kisah ini sangat masyhur dan ditulis oleh hamper seluruh sejarawan, termasuk sejarawan, mufassir, sangat ternama Ibnu Katsir dalam bukunya al-Bidayah wan Nihayah pada bahasan Fath Mashr (penundukkan kota Mesir).

Kisah ini berawal tidak lama setelah Amer bin Ash membawa Islam ke Mesir, air sungai Nil tiba-tiba menyurut dan kering. Orang-orang Mesir saat itu berkata: “Nil memang biasa demikian, dan apabila airnya berkurang atau kering, kami biasa mencari seorang gadis sangat cantik, kemudian meminta idzin kepada orang tuanya untuk dihiasi, didandani dan dipercantik, kemudian ditenggelamkan di sungai Nil. Dan tidak lama setelah itu, sungai Nil akan kembali bertambah airnya”.

Amer bin Ash kemudian berkata kepada penduduk Mesir saat itu: “Islam melarang perbuatan nista tersebut”. Namun, beberapa hari berjalan, sungai Nil tetap menyurut dan kering. Amer bin Ash lalu berkirim surat kepada khalifah Umar bin Khatab di Madinah, mengabarkan apa yang sedang terjadi di Mesir seputar sungai Nil.

Umar bin Khatab kemudian membalas surat Amer bin Ash, dan mengabarkan bahwa apa yang dikatakannya kepada penduduk Mesir adalah benar. Khalifah Umar bin Khatab juga mengabarkan bahwa ia telah menulis surat kepada sungai Nil, yang ditulis di sebuah kertas dan begitu surat tersebut sampai, agar segera dilemparkan ke dalam sungai Nil.

Isi surat Umar bin Khatab kepada sungai Nil dimaksud, sebagaimana ditulis Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan-Nihayah (7/100) adalah sebagai berikut:

بسم الله الرحمن الرحيم
من عبد الله عمر أمير المؤمنين إلى نيل مصر, أما بعد:
يا نيل مصر, فإن كنت إنما تجري من قبلك ومن أمرك, فلا تجر فلا حاجة لنا فيك, وإن كنت إنما تجري بأمر الله الواحد القهار, وهو الذي يجريك, فنسأل الله تعالى أن يجريك.

Artinya:
“Dengan nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Dari hamba Allah, Umar, Amirul Mukminiin kepada Nil Mesir
Wahai Nil Mesir, apabila kamu mengalir itu karena kamu dan karena keinginanmu, maka janganlah kamu mengalir lagi, karena kami tidak memerlukan kamu. Namun, apabila kamu mengalir itu karena perintah dan ketentuan Allah yang Tunggal dan Maha Gagah, dan memang Dialah yang telah mengalirkan kamu, maka kami memohon kepada Allah untuk mengalirkan kamu kembali”.

Begitu surat Umar tersebut sampai di Amer bin Ash, Amer bin Ash segera melemparkan surat dimaksud ke dalam sungai Nil. Begitu malam tiba, sungai Nil pun kembali mengalir dengan deras dan banyaknya.

Keistimewaan-keistimewaan sungai Nil
Dibandingkan dengan sungai-sungai lainnya di muka bumi, sungai Nil mempunyai keistimewaan tersendiri. Di antara keistimewaan-keistimewaan sungai Nil adalah:

1.      Satu-satunya sungai yang disebutkan dalam al-Quran (secara Ijma para ulama)
Sebagaimana telah penulis sampaikan di atas, bahwa sungai Nil merupakan satu-satunya sungai yang disebutkan oleh Allah dalam al-Quran, sebagaimana disampaikan oleh Imam at-Taifaasyi dalam bukunya Suja’ul Hudail: “Tidak satu pun sungai di muka bumi ini yang disebutkan oleh Allah dalam al-Quran, selain sungai Nil”.

Dalam al-Quran, Allah berfirman:

وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَاتَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ [القصص: 7]

Artinya:
“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah Dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya Maka jatuhkanlah Dia ke sungai (Nil). dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan men- jadikannya (salah seorang) dari Para rasul” (QS. Al-Qashash: 7).

إِذْ أَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّكَ مَا يُوحَى * أَنِ اقْذِفِيهِ فِي التَّابُوتِ فَاقْذِفِيهِ فِي الْيَمِّ فَلْيُلْقِهِ الْيَمُّ بِالسَّاحِلِ يَأْخُذْهُ عَدُوٌّ لِي وَعَدُوٌّ لَهُ وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّي وَلِتُصْنَعَ عَلَى عَيْنِي[طه: 38, 39].

Artinya:
“yaitu ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang diilhamkan, yaitu: “Letakkanlah ia (Musa) didalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), Maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir’aun) musuh-Ku dan musuhnya. dan aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku” (QS. Thaha: 38, 39).

Para ulama sepakat, bahwa  yang dimaksud dengan ‘laut’ dalam kedua ayat di atas adalah sungai Nil.

2.      Sungai Nil adalah di antara sungai syurga yang diberikan untuk penghuni dunia
Sebagaimana telah penulis sampaikan sebelumnya, bahwa banyak hadits shahih yang menjelaskan bahwa sungai Nil merupakan sungai syurga yang diturunkan oleh Allah untuk penghuni dunia. Di antara hadits shahih yang menjelaskan hal itu adalah:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: (( سَيْحَانُ وَجَيْحَانُ وَالنِّيلُ وَالْفُرَاتُ كُلٌّ مِنْ أَنْهَارِ الْجَنَّةِ)) [رواه مسلم]

Artinya:
 “Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda: “Seihan, Jeihan, Nil dan Efrat, semuanya adalah sungai-sungai syurga” (HR. Muslim).

3.      Sungai Nil adalah sungai madu di syurga kelak
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat di bawah ini yang diriwayatkan oleh Imam al-Harits dalam Musnad nya (Zawaid al-Haitsamy, bab fadhlul anhaar: 2/944) juga disampaikan oleh al-Khatib al-Baghdady dalam Tarikh Baghdad nya (1/55) di bawah ini:

قال ابن عبد الحكم: حدثنا عبد الله بن صالح، حدثنا الليث، عن يزيد بن أبي حبيب، عن ابي الخير، عن كعب الأحبار، أنه كان يقول: أربعة انهار من الجنة وضعها الله في الدنيا؛ فالنيل نهر العسل في الجنة والفرات نهر الخمر في الجنة، وسيحان نهر الماء في الجنة، وجيحان نهر اللبن في الجنة. [أخرجه الحارث في مسنده والخطيب في تاريخه].

Artinya: “Ka’ab al-Ahbar berkata: “Ada empat sungai syurga yang Allah berikan di dunia, yaitu: sungai Nil yang merupakan sungai madu di syurga, sungai Efrat yang merupakan sungai khamar di syurga, sungai Seihan yang merupakan sungai air di syurga, dan sungai Jeihan yang merupakan sungai susu di syurga kelak”. (Riwayat Harits).

Berkaitan dengan riwayat di atas, Imam Ahmad bin Abu Bakar bin Ismail al-Bushairy dalam kitabnya Ittihaaf al-Khairah al-Muhirrah Bi Zawaaid al-Masaanid al-‘Asyrah (8/87) mengatakan, bahwa riwayat di atas disampaikan oleh al-Harits bin Abu Usamah secara mauquf,akan tetapi semua rawi-rawinya adalah tsiqat (dapat dipercaya).

4.      Sungai Nil adalah Rajanya sungai
Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Ibn Abi Hatim dalam Tafsirnya, sebagaimana dinukil oleh Imam as-Suyuthi dalam Husnul Muhadharah (2/302), bahwa Amer bin Ash pernah mengatakan:

نيل مصر سيد الأنهار، سخر الله له كل نهر بالمشرق والمغرب، فإذا أراد الله أن يجري نيل مصر أمر كل نهر أن يمده، فأمدته الأنهار بمائها، وفجر الله له الأرض عيونا، فإذا انتهت جريته إلى ما أراد الله، أوحى الله إلى كل ماء ان يرجع إلى عنصره.

Artinya:
“Sungai Nil Mesir adalah rajanya sungai-sungai, Allah menundukkan semua sungai di timur dan di barat kepadanya. Apabila Allah berkehendak untuk mengalirkan sungai Nil Mesir, maka Allah memerintahkan semua sungai untuk mengalirkan airnya, maka semua sungai pun mengalirkannya, dan Allah mengeluarkan untuk sungai Nil mata air-mata air bumi. Dan apabila Nil Mesir tidak lagi mengalirkan airnya sebagaimana kehendak Allah, maka Allah memerintahkan semua air untuk kembali ke asalnya”.

5.      Setiap tahun Allah mewahyukan dua hal kepada Nil
Dalam sebuah riwayat sebagaimana dinukil oleh Imam as-Suyuthi dalam Husnul Muhadarah (2/302), juga dalam an-Nujum az-Zaahirah fi Muluk Mashr wal Qaahirah (1/12) disebutkan:

وقال: حدثنا عثمان بن صالح، حدثنا ابن لهيعة، عن يزيد بن أبي حبيب أن معاوية بن أبي سفيان سال كعب الأحبار، هل تجد لهذا النيل في كتاب الله خبرا؟ قال: أي والذي فلق البحر لموسى، إني لأجده في كتاب الله يوحي إليه في كل عام مرتين، يوحي إليه عند جريه: عن الله يأمرك أن تجري فيجرى ما كتب الله، ثم يوحي إليه بعد ذلك: يا نيل عد حميداً.

Artinya: “Bahwasannya Muawiyyah bin Abi Sufyan bertanya kepada Ka’ab al-Ahbar: “Apakah kamu menemukan satu kabar dalam Kitab Allah tentang sungai Nil ini?” Ka’ab menjawab: “Demi kegagahan yang telah membelah laut kepada Nabi Musa as, sesungguhnya saya mendapatkan dalam Kitab Allah, bahwasannya Allah mewahyukan dua hal setiap tahunnya kepada Nil, pertama, Allah mewahyukan ketika Nil mengalirkan airnya bahwasannya Allah memerintahkan kamu untuk mengalirkan airnya, maka Nil pun segera mengalirkannya, sampai waktu yang telah Allah tentukan. Kedua, Allah mewahyukan setelah itu (ketika surut): ‘Wahai Nil, kembalilah kamu (maksudnya surutlah) dengan baik-baik”.

6.      Sungai Nil di antara sungai yang akan diangkat kelak ketika kiamat sudah dekat
Keistimewaan Nil lainnya, adalah bahwa ia  di antara tanda kekuasaan Allah yang apabila Kiamat sudah dekat di mana Ya’juj dan Ma’juj akan keluar, ia akan diangkat kebaikan dan manfaatnya oleh Allah ke langit. Hal ini dapat berupa, air Nil menjadi kering, atau tetap banyak, akan tetapi tidak bermanfaat banyak lagi. Hal ini sesuai dengan perkataan Ibnu Abbas di bawah ini:

عن ابن عباس مرفوعا: انزل الله تعالى من الجنة إلى الأرض خمسة انهار: سيحون، وجيحون، ودجلة، والفرات والنيل؛ أنزلها الله من عين واحدة من عيون الجنة، من أسفل درجة من درجاتها، على جناحي جبريل، واستودعها الجبال، وأجراها في الارض، وجعل فيها منافع للناس، فذلك قوله تعالى: )وأنزلنا من السماء ماء بقدر فأسكناه في الأرض(، فإذا كان عند خروج ياجوج وماجوج، أرسل الله جبريل، فرفع من الأرض القرآن والعلم والحجر من البيت ومقام إبراهيم وتابوت موسى بما فيه؛ وهذه الأنهار الخمسة، فيرفع كل ذلك إلى السماء؛ فذلك قوله: )وأنا على ذهاب به لقادرون(، فإذا رفعت هذه الأشياء من الأرض عدم أهلها خيرها. [الخطيب في تاريخه 1/57, وابن حبان, المجروحين 3/323, 324, وهو ضعيف]

Artinya: “Dari Ibnu Abbas, dan riwayatnya Marfu’, berkata: ‘Allah menurunkan lima sungai syurga ke muka bumi ini: Seihan, Jeihan, Deglah, Efrat dan Nil, Allah menurunkannya dari salah satu dari beberapa mata air syurga, dari tingkatakan paling bawah dari tingkatan-tingkatannya, di atas dua sayap Jibril. Allah mengalirkannya di muka bumi, sehingga membawa banyak manfaat untuk manusia, hal ini sesuai dengan firmanNya: “Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi…” (QS. Al-Mu’minuun: 18). Dan ketika Ya’juj dan Ma’juj keluar nanti, Allah akan mengutus Jibril untuk mengangkat dari bumi al-Quran, ilmu, batu Hajar Aswad, batu yang berada di Maqam Ibrahim,  peti Nabi Musa as berikut isinya, dan lima sungai ini. Semuanya akan diangkat kembali ke langit, dan ini sesuai dengan firmanNya: “…dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa untuk menghilangkannya” (QS. Al-Mukminuun: 18). Ketika semua ini sudah diangkat dari muka bumi, maka manusia akan segera mengalami kehancuran”. (Dinukil dariTarikh Baghdad karya al-Khatib al-Baghdadi: 1/57, dan dalam al-Majruuhiin karya Ibnu Hibban: 3/323, 324, dan riwayat ini riwayat Dhaif).

7.      Sungai nil satu-satunya sungai di dunia yang disebut dalam al-Quran sebagai laut
Imam al-Mas’udi pernah berkata, sebagaimana dinukil oleh al-Maqrizi dalam al-Mawa’id wal I’tibaar nya (1/65):

وقال المسعودي: نهر النيل من سادات الأنهار وأشراف البحار لأنه يرج من الجنة على ما ورد به خبر الشريعة. وقد قال: إن النيل إذا زاد غاضت له الأنهار والأعين والآبار، وإذا غاض زادت فزيادته من غيضها وغيضه من زيادتهاوليس في أنهار الدنيا نهر يسمى بحراً غير نيل مصر لكبره واستبحاره.

Artinya: “Al-Mas’udy berkata: “Sungai Nil termasuk di antara Raja nya sungai-sungai, dan termasuk di antara laut yang paling mulia, karena ia bersumber dari syurga sebagaimana disebutkan dalam berbagai keterangan. Apabila sungai nil bertambah banyak airnya, maka seluruh sungai, mata air dan sumur berkurang airnya, dan apabila sungai nil berkurang airnya, maka sungai-sungai, mata air dan sumur bertambah banyak airnya. Bertambah nya air sungai Nil dari surutnya air-air lainnya, dan surutnya air Nil dari bertambahnya air-air lainnya. Dan tidak ada satupun sungai di muka bumi ini yang disebut sebagai laut (bahr), selain Nil Mesir, karena besar dan luasnya”.

Dalam al-Quran, Allah juga berfirman:

وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ [القصص: 7]

Artinya:
“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah Dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya Maka jatuhkanlah Dia ke laut (sungai Nil). dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan men- jadikannya (salah seorang) dari Para rasul” (QS. Al-Qashash: 7).

Kata ‘laut’ dalam ayat di atas, adalah Sungai Nil. Dan hanya Nil yang disebutkan sebagai laut dalam al-Quran karena keluasan dan kebesarannya.

8.      Sungai nil di antara sungai yang diberi gelar Sungai Mukmin
Dalam sebuah hadits sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn al-Jauzy dalam Gharib al-Hadits nya (1/42), juga oleh Abu as-Sa’adaat al-Mubaarak bin Muhammad al-Jazary dalam  kitabnya an-Nihayah fi Gharib al-Hadits wal Atsar (1/66) disebutkan:

((نهران مؤمنان، ونهران كافران. أما المؤمنان: فالنيل والفرات، وأما الكافران: فدجلة ونهر بلخ)).

Artinya:
 “Ada dua sungai mukmin dan dua sungai kafir. Adapun dua sungai mukmin adalah: Nil dan Efrat, sedangkan dua sungai Kafir adalah Deglah dan Balkh”.

Ibnu al-Jauzi dalam Gharib al-Hadits nya (1/42) mengatakan, dinamakan sungai mukmin, karena ia dapat menyirami dan mendatangkan banyak manfaat sebagaimana layaknya seorang mukmin. Sedangkan disebut sungai kafir, karena tidak dapat mengairi dan tidak dapat mendatangkan banyak manfaat.

Sungai Nil: Lain dari yang lain
Imam at-Taifasy, sebagaimana dikutip oleh Imam as-Suyuthi dalam Husnul Muhadharah (2/315), pernah mengatakan: “Para ulama telah sepakat, bahwa sungai Nil merupakan sungai yang paling istimewa dibandingkan dengan sungai-sungai lainnya, karena beberapa sebab:

1.      Manfaatnya yang sangat luar biasa. Tidak ada satupun sungai di muka bumi ini yang dapat mengairi dengan begitu hebatnya, dan begitu luasnya selain sungai Nil. Manfaat yang diberikan melebihi sungai-sungai pada umumnya.
2.      Hemat dalam pengairannya. Air Nil cukup untuk menyirami tanaman satu kali saja, dan ketika air Nil sudah menyerap ke dalam tanah, maka tanaman itu tidak mengapa tidak disiram lagi sampai dipetik hasilnya nanti. Dan tentu tidak demikian dengan sungai-sungai lainnya.
3.      Air Nil bertambah banyak, ketika sungai-sungai lainnya menyusut, dan sebaliknya, ketika air sungai-sungai pada umumnya bertambah banyak, air sungai Nil malah menyusut.
4.      Hampir semua sungai-sungai di muka bumi, mengalir dari arah timur ke barat, sementara Nil mengalir dari arah selatan ke utara. Karena itu disebutkan dalam sebuah syair:

مصر, ومصر ماؤها عجيب                      ونهرها يجري به الجنوب
Artinya: 
Mesir, Air Mesir memang luar biasa,
Sungainya mengalir menuju utara

Menurut para ilmuwan modern, mengalirnya Nil dari Selatan ke Utara, karena sungai ini berada membentang pada garis 3, 30 derajat lintang selatan, sampai 31derajat lintang utara, atau dengan kata lain bahwa sungai ini memotong lebih dari 34,5 derajat garis lintang
5.      Tidak ada satu pun sungai di muka bumi ini yang mencapai laut China dan Romawi selain Sungai Nil.
6.      Sungai Nil juga pasang, surut airnya dengan tertib dan berurutan, dan tidak didapatkan pada sungai-sungai lainnya.
7.      Hasil-hasil tanaman yang disiram sungai Nil sangat luar biasa banyaknya, dan tidak didapatkan pada sungai-sungai lainnya.
Demikian di antara keistimewaan-keistimewaan Sungai Nil dari sungai-sungai lainnya yang dijelaskan oleh para sejarawan Mesir kenamaan.

Kisah-kisah Misterius Seputar Sungai Nil
Bukan saja, dari segi air dan manfaatnya, namun juga ternyata sungai Nil menyimpan sejuta misteri menyangkut kehidupan yang ada di dalamnya.

Para sejarahwan muslim yang hidup ratusan tahun yang lalu telah banyak menceritakan misteri ini. hewan-hewan aneh yang tidak ditemukan diperairan apapun, di sungai manapun di dunia ini, dan hanya ada di sungai Nil. Berikut penulis ketengahkan beberapa kisah aneh yang hidup di sungai Nil berdasarkan pemaparan para ulama dahulu kala.

1.      Kisah Syaikhul Bahr (Puteri Duyung). 
Kisah puteri duyung sangat kental dengan kehidupan masyarakat dewasa ini, khususnya dunia anak-anak. Ikan yang digambarkan berwajah cantik seorang puteri dan berbadan ikan ini, tidak diketahui secara benar dari mana asal muasal kisah ini muncul. Apakah hanya mitos dan khayalan belaka atau memang sebuah kenyataan. Yang jelas, hamper semua menilai, semua adalah mitos dan rekaan manusia belaka.

Namun, apakah anda percaya kalau sebenarnya ikan jenis ini merupakan salah satu jenis haiwan aneh yang hidup di sungai Nil Mesir? Para sejarahwan yang hidup di abad ke 2 atau 3 hijriyyah telah menulis adanya haiwan aneh ini yang hidup di sungai Nil dan bahkan menurut mereka, boleh jadi tidak ditemukan di sungai-sungai lainnya di muka bumi ini.

Adalah Umar bin Muhammad bin Yusuf al-Kinady atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ibn al-Kinady yang diperkirakan hidup pada abad ke dua hijriyyah, sebagaimana dinukil oleh al-Maqrizi dalam al-Mawaa’id wal I’tibar, telah panjang lebar menceritakan jenis-jenis haiwan aneh yang tinggal di Sungai Nil Mesir.

Menurutnya, di antara kelebihan dan keistimewaan sungai Nil Mesir dari sungai-sungai lainnya di muka bumi, adalah hidupnya beberapa jenis haiwan aneh yang tidak ditemukan di sungai-sungai lainnya. Di antaranya, ada sejenis ikan yang bermuka manusia dan berbadan ikan. Bahkan, di antara jenis ikan ini, ada juga yang sampai mukanya menyerupai seorang kakek-kakek berjenggot tebal dan panjang. Dan ikan jenis ini hidup di sungai Nil di daerah sekitar Dimyat.

Orang-orang Mesir pada saat itu, menyebut ikan jenis ini dengan nama Syaikhul Bahr (Penjaga Sungai Nil). Masyarakat saat itu mempunyai anggapan, ikan tersebut berperanan sebagai pemberi tahu. Di mana seseorang melihat ikan jenis ini, itu pertanda akan terjadinya kekeringan, kematian dan bencana.

Penulis tidak mengetahui secara benar keabsahan kisah ini. Di satu sisi, diragukan kebenarannya, karena tidak jelas sumber asalnya. Namun, di sisi lain, boleh jadi juga dibenarkan keabsahannya, mengingat hamper semua sejarahwan dahulu kala selalu menyebut jenis ikan ini dalam kitab-kitabnya. Dan, tentu, hal ini bukan sesuatu yang mustahil akan adanya.

Kalau saja jenis ikan ini betul-betul ada dahulu kala, maka boleh dikatakan, sebenarnya kisah Putri Duyung berasal dari Mesir, tepatnya dari Sungai Nil Mesir. Dan kalau benar ini terjadi, maka sebutan Mesir sebagai Ummul Hadarah dan Ummud Dunya, betul-betul tidak diragukan dan betul-betul mencakup semua aspek, karena mencakup juga kisah-kisah aneh yang belakangan marak diperbincangkan di masyarakat dunia, termasuk di Indonesia.

2.     Kisah  Farasul Bahr (Kuda Nil). 
Mari kita sejenak merenung, mengapa salah satu jenis hewan yang mirip kuda dikenal dengan sebutan Kuda Nil. Mengapa tidak disebut Kuda Amazon, atau Kuda Kapuas atau Kuda Ciliwung? Apakah sebutan ‘Nil’ di ujung nama tersebut ada kaitannya dengan Sungai Nil? Ataukah hanya sekedar nama biasa yang tidak ada sangkut pautnya?

Penulis mencoba melacak sejarah Kuda Nil, namun tidak ditemukan sejarah yang lengkap, detail dan menenangkan tentang mengapa dikenal dengan nama itu. Sejarah yang ada, tidak banyak mengupas persoalan nama itu, dan kalaupun ada, hanya sekedarnya saja.

Oleh karena itu, ketika penulis membaca buku-buku yang ditulis para ulama ratusan tahun lalu tentang keajaiban Sungai Nil (‘ajaib an-niil), penulis mendapatkan sedikit kesinambungan nama tersebut.

Para ulama dahulu kala, menulis bahwa di antara haiwan aneh yang hidup di Sungai Nil Mesir, juga ada sejenis ikan dalam bentuk seekor kuda. Mereka menyebutnya Farasul Bahr (Kuda Sungai Nil). Menurut catatan para sejarawan ini, ikan jenis ini memakan buaya, dan karenanya, di mana ikan jenis ini berada, di sana jarang atau boleh jadi tidak ada sama sekali diketemukan buaya. Ikan jenis ini umumnya hidup di sungai Nil di daerah Aswan, Mesir.

Ikan jenis ini mirip bentuknya dengan kuda yang hidup di daratan, hanya saja ekornya lebih besar dan lebih indah warnanya. Telapak kakinya mirip telapak kaki sapi, dan tubuhnya lebih besar sedikit dari tubuh keledai. Dan terkadang, ikan jenis ini sengaja keluar ke daratan, kemudian berhubungan badan dengan kuda yang hidup didaratan, sehingga melahirkan seekor kuda yang sangat bagus dan cantik.

Kisah di atas, ditulis oleh banyak sejarawan ketika mencoba mengulas seputar hal-hal yang berkaitan dengan sungai Nil. Dan mereka  yang menceritakannya, bukan orang-orang sembarang, akan tetapi para ulama dan sejarawan yang memang sudah ‘kahot’ dibidangnya. Untuk itu,hemat penulis, kisah ini sangat boleh jadi keberadaan dan kebenarannya. Di antara buku belakangan yang menceritakan haiwan-haiwan ini, di antaranya adalah kitab al-Mawaaid wal I’tibaar karya Imam al-Maqrizi.

Kalau ini kisah ini benar adanya, maka boleh jadi dan sangat besar kemungkinan, nama ‘Nil’ yang melengket dengan nama salah satu jenis haiwan belakangan ini yang dikenal dengan nama ‘Kuda Nil’, sangat erat kaitannya dengan Farasul Bahr, sejenis ikan yang berbentuk kuda yang hidup di sungai Nil ini.

Apakah wujud Farasul Bahr sama persis dengan Kuda Nil sekarang ini? Tentu sulit dibuktikan. Hanya, kalaupun tidak sama persis, pengambilan nama ‘Kuda Nil’ ini, boleh jadi, hendak menisbahkan dengan jenis ikan yang hidup di sungai Nil yang dikenal dengan nama Farasul Bahr ini, dari segi bentuk, wujud dan kehidupannya.

3.      Cerita ikan Ar-Ru’aad (Ikan Geledek). 
Ikan ini disebut Ikan Geledek (ar-Ru’aad), karena selalu menyambar para nelayan, laksana kilat yang selalu menyambar. Ikan ini sejenis ikan biasa yang besarnya seukuran lengan. Namun tenaga dan kekuatannya sangat besar, sehingga apabila ikan ini menyambar tangan nelayan atau jarring, maka kedua tangan dan kaki nelayan itu akan bergetar, seolah terkena aliran listrik. Getaran itu tidak akan berhenti, sampai ikan tersebut dilepaskan atau ikan tersebut mati.

Ikan ini bukan ikan untuk dimakan, akan tetapi diyakini oleh masyarakat Mesir dahulu kala sebagai ikan obat. Mereka yang sering sakit kepala (barangkali istilah sekarang Migren), sehebat apapun sakitnya, apabila ditempelkan ikan tersebut persis di atas kepalanya, maka saat itu juga sakit kepalanya akan hilang. Dengan catatan ikan tersebut masih hidup, bukan setelah mati.

Oleh karena itu, masyarakat Mesir saat itu, biasa mencari ikan ini sebagai obat sakit kepala yang sudah bertahun-tahun atau yang sudah sangat parah sekalipun.  Bahkan, bukan hanya itu, masyarakat Mesir dahulu kala menyakini Ikan Geledek ini sebagai ikan keberuntungan, di mana menurut kepercayaan mereka, apabila seorang gadis atau janda menenggantungkan sebagian anggota tubuh Ikan Geledek ini, maka wanita tersebut akan segera mendapatkan jodohnya. Atau bagi yang sudah bersuami, maka suaminya akan selalu nempel dengan dirinya.

Demikian juga dengan laki-laki. Setiap laki-laki yang menempelkan sebagian anggota tubuh Ikan Geledek ini, maka ia akan segera mendapatkan jodoh yang sesuai, dan apabila telah menikah, maka isterinya tidak akan meninggalkannya, juga tidak akan jauh dari dirinya. Demikian, kepercayaan masyarakat Mesir dahulu kala tentang Ikan jenis ini, sebagaimana ditulis oleh para sejarawan Mesir, semisal al-Maqrizi dalam al-Mawaid wal Itibar (1/66).

4.      Dongeng ikan As-Suqnaqur. 
Ikan jenis ini kononnya merupakan hasil perkawinan antara ikan dengan buaya. Bentuknya tidak seluruhnya seperti ikan, karena Suqnaqur mempunyai dua tangan dan dua kaki, juga tidak seperti buaya, ekornya licin mulus, lebar dan tidak berduri sebagaimana buaya. Ikan ini mempunyai racun yang sangat berbahaya, dan apabila racun ini dimakan, maka akan mengakibatkan kematian seketika.

Ikan jenis ini sebagaimana Ikan Geledek, bukan untuk dimakan, akan tetapi sebagai obat. Suqnaqur merupakan obat untuk kekuatan hubungan badan, khususnya bagi laki-laki. Biasanya yang diambil dari Suqnuqur ini hanya daging dan lemaknya saja. Ada yang dijadikan seperti salep dan ada juga yang dikeringkan dan dimakan disatukan dengan madu atau sayur. Suqnaqur juga hanya diketemukan di sungai Nil saja, dan tidak ditemukan di sungai-sungai lainnya.


Demikian di antara jenis-jenis hewan khas yang hidup di sungai Nil dan tidak hidup di sungai-sungai lainnya di muka bumi ini.

Penutup
Demikian, tulisan ringkas seputar sungai Nil ini penulis sajikan, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Apa yang benar tentu datangnya dari Allah dan Rasul-Nya, dan apa yang tidak benar, tentu datang dari kebodohan penulis sendiri dan dari Setan. Wallahu ‘alam bis shawab.
loading...

Friday, November 6, 2015

5 Cara Mudah Mengedit File Berformat PDF

Dokumen-dokumen yang tersedia di penyimpanan komputer terkadang berbentuk dalam format PDF. Seperti diketahui, forman dokumen PDF merupakan fomat mati alias tidak bisa lagi dilakukan pengeditan seperti biasa di microsoft Office.

File berformat PDF umumnya digunakan untuk menyimpan dokumen berupa tulisan maupun gambar. Format file PDF memang sangat unik, berbeda dengan file lainnya. Sekilas file pdf nampak seperti gambar statis yang sifatnya permanen atau tidak dapat diubah lagi. Selain itu PDF tidak memiliki source seperti file HTML yang terdiri dari source teks itu sendiri, gambar dan javascript

Lantas, bagaimana kalau misalnya kita ingin mengubah atau mengedit file yang berformat PDF tersebut? Banyak anak kuliahan atau mahasiswa yang memerlukan ini, misalnya untuk mengedit makalah yang banyak tersedia di internet.

Memang Adobe Reader bisa digunakan untuk membaca file PDF, namun untuk urusan edit, anda harus membeli lisensi khusus.

Tapi jangan khawatir, sekarang ini sudah banyak software gratisan yang bisa anda manfaatkan untuk mengedit file berformat PDF.

Berikut selengkapnya:

Infix PDF Editor


Software Infix PDF Editor ini merupakan software amazing buatan Iceni. Bagaimana tidak, software ini mampu mengedit teks dalam PDF seperti mengedit teks pada MS Word.

Selain itu, ada banyak kelebihan lain dari Infix PDF Editor, seperti:
  • Mampu mengedit teks seperti MS Word.
  • Bisa edit semua komponen PDF baik teks, ukuran teks, tipe atau jenis teks, gambar dan lain-lain.
  • Selain untuk mengedit pdf bisa juga untuk membuat file PDF dari dokumen apa saja (membuat PDF dengan MS Office).
  • Teks hasil editan bisa dirapihkan sehingga tidak nampak berbeda dengan versi aslinya.
  • Mampu mengekstrak dan menyalin gambar dari PDF.
  • Terdapat fitur search and replace, fitur ini sangat berguna misalnya untuk mencari kesalahan penulisan dan menggantinya secara otomatis.
Salah satu fitur uniknya adalah Tool penerjemah yang memungkinkan untuk mengexport file PDF menjadi XML untuk diterjemahkan dan diaplikasikan ulang pada file PDF.

PDF-XChange Viewer
Orang lebih mengenal aplikasi ini sebagai software yang berfungsi untuk membuka atau membaca file saja. Padahal, aplikasi ini sangat hebat dan bisa digunakan untuk mengedit pdf secara gratis. Kemampuannya tidak kalah dari program sejenis bahkan, PDF XChange mengklaim dirinya lebih cepat, ringan dan lebih banyak fitur.


Bahkan, software ini bisa dipakai untuk memberi password pada file PDF. Sehingga orang lain tidak bisa merubah, meng ekstrak atau mencetak dokumen anda.

Fill Any PDF

Yang satu ini justru tidak membutuhkan instalasi software, lah.. kok bisa? Karena FillAnyPDF adalah aplikasi edit PDF berbasis WEB. Jadi, anda tinggal mengupload dokumen yang akan diproses kemudian mulai menambah, merubah atau menghapus isi file PDF anda. Gampang bukan? Semua diproses secara online!

Penting : untuk menggunakan aplikasi online pdf editor ini, komputer anda harus sudah terinstal Microsoft Silverlight. Klik disini untuk mengunduh

Setelah puas mengedit dokumen, anda bisa menyimpan ke komputer atau membagikan (share) ke rekan kerja, teman atau orang lain yang belum anda kenal.

PDF Escape
Sama seperti sebelumnya, PDF Escape tidak perlu download dan install software di komputer anda. Cukup upload dan mulai mengedit file yang ingin dirubah secara online. Satu hal yang membedakan kedua aplikasi online ini, PDF Escape lebih cepat dan mudah dalam memproses PDF files.


Mengedit File PDF via Website

Selain menginstal software, anda juga bisa mengedit file PDF melalui fitur beberapa website yang menyediakan layanan edit pdf secara gratis.

Keuntungannya, anda tidak perlu mendownload plug-in tambahan seperti Microsoft Silverlight. Tampilannya juga lebih sederhana dan user friendly. Begitu selesai mengedit dokumen, anda bisa langsung mencetak lewat printer atau disimpan ke hard disk komputer.
loading...

Thursday, November 5, 2015

[Kisah Inspiratif]: Hidup Seperti Mengisi Toples

Dalam sebuah semuinat, seorang guru besar di depan audiensnya memulai materi kuliah dengan menaruh topless yang bening dan besar di atas meja.

Lalu sang guru mengisinya dengan bola tenis hingga tidak muat lagi. Beliau bertanya: "Sudah penuh?"

Audiens menjawab: "Sudah penuh".

Tapi  kemudian sang guru mengeluarkan kelereng dari dan memasukkannya ke dalam topless tadi. Kelereng mengisi sela-sela bola tenis hingga tidak muat lagi. Beliau bertanya: "sudah penuh?"

Audiens menjawab: "sudah penuh".

Tapi Setelah itu sang guru mengeluarkan pasir pantai dan memasukkan nya ke dalam topless yang sama. Pasir pun mengisi sela-sela bola dan kelereng hingga tidak bisa muat lagi. Semua sepakat kalau topless sudah penuh dan tidak ada yang bisa dimasukkan lg ke dalamnya.

Tetapi terakhir sang guru menuangkan secangkir air kopi ke dalam toples yang sudah penuh dengan bola, kelereng dan pasir itu.

Sang Guru kemudian menjelaskan bahwa:

"Hidup kita kapasitasnya terbatas seperti topless. Masing-masing dari kita berbeda ukuran toplesnya:
- Bola tenis adalah hal-hal besar dalam hidup kita, yakni tanggung-jawab terhadap Tuhan, orang tua, istri/suami, anak-anak, serta makan, tempat tinggal & kesehatan.
- Kelereng adalah hal-hal yang penting, seperti pekerjaan, kendaraan, sekolah anak, gelar sarjana, dll.
- Pasir adalah yang lain2 dalam hidup kita, seperti olah raga, nyanyi, rekreasi, Facebook, BBM, WA, nonton film, model baju, model kendaraan dll.
- Jika kita isi hidup kita dengan mendahulukan pasir hingga penuh, maka kelerengdan bola tennis tidak akan bisa masuk. Berarti, hidup kita hanya berisikan hal-hal kecil. Hidup kita habis dengan rekreasi dan hobby, sementara Tuhan dan keluarga terabaikan.
- Jika kita isi dengan mendahulukan bola tenis, lalu kelereng dst seperti tadi, maka hidup kita akan lengkap, berisikan mulai dr hal-hal yang besar dan penting hingga hal-hal yang menjadi pelengkap.
Karenanya, kita harus mampu mengelola hidup secara cerdas dan bijak. Tahu menempatkan mana yang prioritas dan mana yang menjadi pelengkap.

Jika tidak, maka hidup bukan saja tidak lengkap, bahkan bisa tidak berarti sama sekali".

Lalu sang guru bertanya: "Adakah di antara kalian yang mau bertanya?"

Semua audiens terdiam, karena sangat mengerti apa inti pesan dalam pelajaran tadi.

Namun, tiba-tiba seseorang nyeletuk bertanya:

"Apa arti secangkir air kopi yang dituangkan tadi .....?"

Sang guru besar menjawab sebagai penutup: "Sepenuh dan sesibuk apa pun hidup kita, jangan lupa masih bisa disempurnakan dengan bersilaturahim sambil "minum kopi" ..... dengan tetangga, teman, sahabat yang hebat. Jangan lupa sahabat lama. Saling bertegur sapa, saling senyum bila berpapasan ..... betapa indahnya hidup ini !

loading...

Wednesday, November 4, 2015

Sejarah Islam di Tanah Papua [500 Tahun Islam di Papua, Dari Raja Ampat Hingga Sultan Papua]

Sejarah Islam di tanah papua sudah berlangsung sejak lebih dari 5 abad yang lalu, seiring masuknya dakwah-dakwah Islam ke kepulauan Melayu hingga ke perairan pasifik.

Asal-usul kata Papua
Ada banyak pendapat dikemukakan para ahli tentang asal muasal penamaan Papua. Sebuah pendapat menyebutkan bahwa istilah Papua berasal dari bahasa Tidore, Papo Ua, yang berarti tidak bergabung atau tidak bersatu. Maksudnya adalah wilayah luas dan tanah besar itu (Papua) tidak termasuk ke dalam induk kesultanan Tidore.

Perspektif lain menyebutkan bahwa Papua berasal dari bahasa Melayu, pua-pua, yang berarti keriting. Istilah ini pernah dikemukakan oleh William Mardsen tahun 1812, dan terdapat dalam salah satu kamus bahasa Melayu -Belanda karya Von der Wall tahun 1880, dengan kata ‘papoewah’ yang berarti orang yang berambut keriting.

Memang, Papua sendiri telah dikenal sejak lama. Pada masa Kerajaan Sriwijaya, Papua disebut Janggi. Pelaut Portugis yang pernah singgah di Papua tahun 1526-1527 menyebutnya ‘Papua.’ Namun ada pula yang menyebutnya Isla de Oro (Island of Gold). Kemiripan fisik orang Papua dengan orang Afrika membuat pelaut Spanyol menyebutnya ‘Nieuw Guinea’, merujuk pada wilayah Guinea di Afrika Barat.

Berbagai sebutan untuk Papua menyiratkan pada kita, akan keragaman bangsa yang berinteraksi dengan orang-orang Papua. Salah satu bangsa yang diketahui berhubungan dagang dengan orang-orang Papua adalah pedagang Cina. Pertukaran barang seperti porselin dan tembikar terjadi diantara mereka. Bahkan di kalangan masyarakat Seruni, terdapat keturunan Cina.

Ceritera lain juga menyebutkan tentang hubungan Kerajaan Majapahit dengan orang-orang Papua. Terutama dengan penduduk Papua di Onin (Wwanin), Fakfak. Hubungan ini diketahui dari SyairNegarakertagama karya Empu Prapanca (1365M), dalam sebuah bait syair disebutkan kata Wwanin (Onin, Fakfak) dan Sran (Kowiai atau Kaimana).

Tak hanya dengan bangsa di Asia, para penjelajah Eropa juga telah mengunjungi Papua sejak abad ke 16. Tahun 1526, misalnya, Gubernur Portugal pertama di Maluku bernama Jorge de Menesez mengunjungi Pulau Waigeo (Raja Ampat). Tahun 1545, Kapten Ynigo Ortiz de Retez  dari Spanyol mencapai sekitar Sarmi, di muara Sungai Mamberamo. Ia kemudian memberi nama pulau itu (Papua) Nueva Guinea.

Hubungan orang Papua, yaitu Raja Waigeo dengan orang Portugis bisa ditelusuri dari catatan perjalanan Miguel Roxo de Brito, yang menjelajah ke Raja Ampat tahun 1581. Dari catatan De Brito, dapat disimpulkan bahwa Raja Waigeo telah memeluk agama Islam.

Kontak-kontak orang-orang Papua dengan berbagai pihak tersebut biasanya sebatas perdagangan. Namun kontak orang-orang Papua dengan muslimlah yang kemudian memberikan dampak yang berbeda. Kontak orang-orang Papua dengan muslim tak hanya terbatas pada soal perdagangan, namun juga perubahan hidup mereka dengan memeluk Islam.

Masuknya Islam ke Tanah Papua
Syiar Islam di Bumi Papua terjadi terutama terkonsentrasi di wilayah Papua Barat, mulai dari Raja Ampat hingga Fakfak. Ada beberapa versi mengenai masuknya Islam di Papua.

Mayoritas sumber sejarah masuknya Islam di Papua adalah berdasarkan sumber-sumber lisan masyarakat setempat. Versi Papua, misalnya, berdasarkan legenda di masyarakat setempat, khususnya di Fakfak. Versi ini menyebut Islam bukanlah dibawa dari luar seperti Tidore atau pedaganh Muslim, tetapi Papua sudah Islam sejak Pulau Papua diciptakan oleh Allah. Secara l;ogis, versi ini tentu saja agak kurang bisa diterima, akan tetapi secara tersirat versi ini menandakan betapa mengakarnya Islam di Papua dan telah menjadi kepercayaan yang menyatu dengan masyarakat setempat.

Versi lain adalah versi Aceh. Versi ini berdasarkan sejarah lisan dari daerah Kokas (Fakfak) yang menyebutkan Syekh Abdurrauf dari Kesultanan Samudera Pasai mengirim Tuan Syekh Iskandar Syah untuk berdakwah di Nuu War (Papua) tahun 1224. Syekh Iskandar kala itu membawa beberapa kitab yakni mushaf Al Qur’an, kitab hadits, kitab tauhid dan kitab kumpulan doa. Ada pula manuskrip yang ditulis di atas pelepah kayu, mirip daun lontara. Beberapa manuskrip tersebut diyakini selamat hingga saat ini. Namun versi ini perlu dipertimbangkan kembali, mengingat btu nisan Sultan pertama Pasai, Malik As Shalih di Pasai berangka tahun 1297M. Artinya, abad ke 13 adalah masa-masa awal Kesultanan Samudera Pasai. Dakwah Kesultanan Samudera Pasai saat itu (abad ke 13) sepertinya masih terkonsentrasi di Sumatera, mengingat saat itu, wilayah-wilayah lain di Sumatera pun belum sepenuhnya memeluk Islam. Manuskrip warisan yang disimpan hingga kini, akan lebih baik jika diteliti secara filologi.

Menurut tradisi lisan lain di Fakfak, Islam disebarkan oleh mubaligh bernama Abdul Ghafar asal Aceh pada tahun 1360-1374 di Rumbati. Makam dan Masjid Rumbati menjadi peninggalannya. Namun informasi lain menyebut Abdul Ghafar datang ke Rumbati tahun 1502 M. Kemungkinan ini perlu ditinjau kembali, terutama dalam hal waktu masuknya Islam. Kemungkinan Abdul Ghafar datang pada abad ke 16, bersamaan dengan masa keemasan Kesultanan Ternate dan Tidore sebagai bandar jalur sutera dan meluaskan kekuasaannya dari Sulawesi hingga Papua.

Versi lain masuknya Islam di Papua adalah versi Arab. Versi ini menyebutkan Islam di Papua disebarkan oleh seorang sufi bernama Syarif Muaz al Qathan (Syekh Jubah Biru) dari Yaman , yang terjadi pada abad ke 16. Hal ini sesuai dengan adanya Masjid Tunasgain yang dibangun sekitar tahun 1587. Informasi lain menyebut Syekh Jubah Biru datang pada tahun 1420M.

Pendapat yang tampaknya lebih kuat mengenai masuknya Islam di Papua adalah datangnya Islam di Papua melalui Kesultanan Bacan (Maluku). Di Maluku terdapat empat Kesultanan, yaitu, Bacan, Jailolo, Ternate dan Tidore (Moloku Kie Raha atau Mamlakatul Mulukiyah). J.T. Collins, menyebutkan, berdasarkan kajian linguistik, Kesultanan Bacan adalah Kesultanan tertua di Maluku. Syiar Islam oleh Kesultanan Bacan disebarkan di wilayah Raja Ampat.

Terbentuknya Kolano Fat (Raja Ampat atau Raja Empat, dalam bahasa Melayu) di kepulauan Raja Ampat oleh Kesultanan Bacan, dapat dilihat dari nama-nama gelar di kepulauan tersebut; (1)  Kaicil Patra War, bergelarKomalo Gurabesi (Kapita Gurabesi) di Pulau Waigeo, (2) Kaicil Patra War bergelar Kapas Lolo di Pulau Salawati. (3) Kaicil Patra Mustari bergelar Komalo Nagi di Misool, (4) Kaicil Boki Lima Tera bergelar Komalo Boki Sailia di Pulau Seram.Isitilah Kaicil adalah gelar anak laki-laki Sultan Maluku. Menariknya, nama Pulau Salawati menurut tutur lisan masyarakat setempat,, diambil dari kata Shalawat.

Ada beberapa nama tempat yang merupakan pemberian Sultan Bacan. Seperti Pulau Saunek Mounde (buang sauh di depan), Teminanbuan (tebing dan air terbuang), War Samdin (air sembahyang). War Zum-zum (penguasa atas sumur) dan lainnya. Nama-nama tersebut merupakan bukti-bukti peninggalan nama-nama tempat dan keturunan Raja Bacan yang menjadi Raja-raja Islam di Kepulauan Raja Ampat. Kemungkinan Kesultanan Bacan menyebarkan Islam di Papua sekitar pertengahan abad ke 15 dan kemudian abad ke 16, terbentuklah kerajaan-kerajaan kecil di Kepulauan Raja Ampat, setelah para pemimpin-pemimpin Papua di Kepulauan tersebut mengunjungi Kesultanan Bacan tahun 1596.

Pendapat ini didukung pula oleh catatan sejarah Kesultanan Tidore ‘Museum Memorial Kesultanan Tidore Sinyine Malige’, yang menyebutkan Sultan Ibnu Mansur (Sultan Tidore X) melakukan ekspedisi ke Papua dengan satu armada kora-kora. Ekspedisi ini menyusuri Pulau Waieo, Batanta, Salawati, Misool di Kepulauan Raja Ampat. Di wilayah Misool, Sultan Ibnu Mansur yang sering disebut Sultan Papua I, mengangkat Kaicil Patra War, putra Sultan Bacan dengan gelar Komalo Gurabesi. Kacili Patra War kemudian dinikahkan dengan putri Sultan Ibnu Mansur, yaitu Boki Thayyibah. Dari penikahan inilah Kesultanan Tidore memperluas pengaruhnya hingga ke Raja Ampat bahkan hingga Biak.

Penyebaran Islam kemudian juga disebarluaskan ke berbagai wilayah pesisir Papua Barat, seperti Kokas, Kaimana, Namatota, Kayu Merah, Aiduma dan Lakahia oleh para pedagang muslim seperti dari Bugis, Buton, Ternate dan Tidore. Kehadiran orang Buton diperkuat dengan kesaksian Luis Vaes de Torres di tahun 1606. Ia menyebutkan di daerah pesisir Onin (Fakfak) telah menetap orang Pouton (Buton) yang berdagang dan menyebarkan agama Islam.

Syi’ar Islam di Papua menjadi lebih mudah karena kesamaan budaya dan bahasa. Bahasa yang dipakai tergolong bahasa-bahasa dari rumpun Austronesia, seperti bahasa di Bacan dan Sula (bahasa Biak di Raja Ampat; Tobelo dan bahasa Onin di Fakfak dan Seram; maupun bahasa non Austronesia seperti di Ternate; Tidore dan Jailolo karena masuk golongan Bahasa Halmahera Utara, yaitu bahasa Galela). Bahasa Onin telah lama digunakan sebagai lingua franca yang berguna sebagai bahasa untuk perdagangan dan penyebaran agama Islam. Bahasa ini dipakai oleh kalangan pedagang dan elit (pemimpin masyarakat) yang terdapat di pesisir pantai selatan ‘Kepala Burung’ dan Semenanjung Bomberey (Fakfak dan Kaimana).

Kemudahan komunikasi dengan para pemimpin masyarakat Papua, yang kemudian memeluk Islam, mendorong berdirinya kerajaan-kerajaan (Petuanan) otonom di bawah Kesultanan Tidore. Kerajaan-kerajaan (Petuanan) ini terdapat di Raja Ampat (Kolano Fat), yang tetap terpatri hingga kini sebagai identitas Pulau Papua. Kerajaan di Raja Ampat terdiri dari Kerajaan Waigeo (yang berpusat di Weweyai), Kerajaan Salawati (berpusat di Sailolof), Kerajaan Misool (berpusat di Lilinta) dan Kerajaan Batanta. Kerajaan-kerajaan ini berdiri dengan perangkatnya masing-masing, yang diberi gelar oleh Kesultanan Tidore, sebagai imbal atas upeti kerajaaan tersebut kepada Kesultanan Tidore.

Di wilayah Fakfak dan Kaimana kerajaan-kerajaan (Petuanan) ini terbagi menjadi sembilan, yaitu Petuanan Namatota, Komisi, Fatagar, Ati-ati, Rumbati, Pattipi, Sekar, Wertuar dan Arguni. Pengaruh Kesultanan Tidore di Kerajaan Wertuar misalnya, dapat dilihat dari pelantikan Raja Wertuar VII yang dilakukan oleh Sultan Tidore, Muhammad Tahir Alting pada tahun 1886. Sedangkan di Kampung Ugar, Fakfak, terdapat dokumen  silsilah Raja-Raja Ugar beraksara Arab, yang tertulis tahun 1929 M.

Pengaruh Islam kepada masyarakat papua dapat diperkirakan dengan melihat penerapan ajaran Islam yang terdapat di masyarakat Papua saat itu. Penerapan hukum Islam, misalnya, telah diterapkan masyarakat Pulau Misool, hinggak akhir masa kolonial Belanda. Di sana terdapat Hakim Syara’ yang bertugas mengurusi perihal perkawinan, kematian dan sholat berjamaa’ah. Kehadiran Masjid-masjid tua, seperti misalnya Masjid Tunasgain, yang diperkirakan dibangun sejak tahun 1587. Atau di Patimburak, yang diperkirakan sejak abad ke 19.

Haji Oea Saraka di Onin (Fakfak). Foto diambil antara tahun 1890-1900.
Sumber foto: Koleksi Foto Tropen Museum Belanda
Kehadiran Masjid ini selain peninggalan fisiknya, dapat pula kita perkirakan kedudukannnya dalam masyarakat. Kehadiran Masjid sejak abad ke 16, menandakan sejak lama telah dilaksanakannya pendidikan Islam melalui khotbah Jum’at. Kehadiran Masjid bisa pula kita perkirakan berfungsi sebagai tempat pendidikan, meski dalam bentuk yang sederhana di masyarakat. Pola pendidikan sederhana ini dapat kita telusuri dengan ditemukannya kitab Barzanji, bertanggal 1622 M dalam bahasa Jawa Kuno dan teks khutbah Jum’at yang bertarikh 1319 M.Kehadiran kitab Barzanji, dapat kita perkirakan sebagai upaya untuk menumbuhkan tradisi Islam dalam masyarakat.

Pengaruh Islam lainnya dalam masyarakat, dapat dilihat dari nama-nama yang terdapat dalam masyarakat papua pribumi. Di desa Lapintol dan Beo, pada umumnya, kaum pria memakai nama-nama Arab seperti Idris, Hamid, Abdul Shomad, atau Saodah untuk perempuan.

Islam juga mengubah penampilan masyarakat. Jika di pedalaman Papua, masyarakat aslinya belum berpakaian, dan hanya menutup bagian vitalnya saja, maka di pesisir penduduk Papua keadaan sangat berbeda. Tak dapat dipungkiri, Syiar Islam di Papua mengalami proses yang gradual. Masih dapat ditemukan muslim Papua saat itu yang mempercayai kepercayaan Animisme atau kepercayaan lokal lainnya. Proses penyebaran Islam melalui kepala suku atau pemimpin masyarakat, membuat syi’ar Islam sangat bergantung kepada kepedulian kepala suku tersebut. Syiar Islam di Papua sedikit banyak juga terpengaruh oleh dinamika yang terjadi di Maluku.

Pasang-surutnya kekuasaan Kesultanan Tidore mempengaruhi kehidupan yang terjadi di Papua. Kehadiran bangsa asing yang menjajah Maluku, seperti Portugis, Inggris, Spanyol dan Belanda berpengaruh besar terhadap kekuasaan Kesultanan Tidore dan Ternate. Kedudukan Kesultanan Tidore pada masa Sultan Saifuddin yang sebelumnya sejajar dengan Belanda, lama kelamaan mengalami masa surut.

Konflik internal dan suksesi kepemimpinan di Kesultanan Tidore ikut menyeret Belanda ke dalam pusaran konflik. Pergantian kepemimpinan di Kesultanan Tidore lambat laun melibatkan campur tangan VOC (Belanda). Kesultanan Tidore dan Ternate yang saling bertikai, memaksa keduanya bertekuk di bawah VOC dan menjadivasal VOC. Hal ini berdampak pada pengaruh Kesultanan Tidore di Papua. Kesultanan Tidore mulai kehilangan pengaruhnya di Papua terutama sejak abad ke 18.

Kondisi Kesultanan Tidore yang lemah, membuat seorang Pangeran Kesultanan Tidore, yaitu Pangeran Nuku memberontak terhadap kekuasaan Tidore. Pangeran Nuku kemudian menjadi simbol perlawanan terhadap VOC yang bersekutu dengan Sultan Tidore serta Ternate.Perlawanan Pangeran Nuku yang anti Belanda, menggerogoti kekuasaan Belanda di Maluku. Pangeran Nuku tidak saja mampu memperoleh dukungan dari orang-orang di Tidore, Ternate, Seram, dan juga Halmahera, tetapi ia terutama memperoleh dukungan dari orang-orang Papua terutama di Raja Ampat. Dukungan orang-orang Papua di Raja Ampat, membuatnya bergelar Sultan Papua II. Meneruskan Sultan Ibnu Mansur (Sultan Tidore X) yang bergelar Sultan Papua I.

Kekuatan pasukan Pangeran Nuku begitu hebat, terutama saat ia bersekutu dengan Inggris untuk memerangi VOC. Yang menarik, Pangeran Nuku juga disebutkan didukung oleh ulama dan tokoh haji berpengaruh, yaitu Haji Umar. Ambisi Pangeran Nuku untuk membebaskan dan memunculkan kembali empat Kesultanan Maluku memang tak tercapai. Namun ia berhasil membebaskan Kesultanan Tidore dari pengaruh Belanda. Hingga ia wafat (1805), Kesultanan Tidore mampu berdiri tanpa pengaruh Belanda. Namun Semenjak ia wafat, Kesultanan Tidore tak mampu lagi mempertahankan kemerdekaannya. Belanda kembali menguasai Kesultanan Tidore.

Masuknya kembali pengaruh Belanda ke Kesultanan Tidore membawa pengaruh besar di Papua. Belanda akhirnya terjun langsung ke bumi Papua, untuk menegakkan kekuasaannya. Motivasi Belanda menguasai langsung Papua setidaknya terdapat lima motif, (1) Belanda hendak mencegah intervensi asing seperti Inggris ke wilayah Papua. (2) Belanda juga berhasrat untuk melindungi kekuasaannya di Maluku. (3) Belanda memiliki kepentingan ekonomi di Papua, terutama dari hasil produk hutan, laut dan eksplorasi agararia. (4) Melindungi Belanda dari perompak, yaitu Suku Tugeri (Marind-Anim) di Papua. (5) Belanda hendak mendukung penyebaran Kristen di Papua.

Belanda mendirikan benteng pertamanya di Papua, yaitu Benteng Du Bus. Dinamakan Benteng Du Bus, sebagai penghargaan terhadap Komisaris Jenderal Hindia Belanda, L.P.J. du Bus de Gesignies yang mengusulkan dibangunnya pos perdagangan di Papua (1826-1830). Belanda kemudian mengumumkan kepemlikan Raja Netherland atas seluruh wilayah Papua bagian barat, kecuali yang menjadi hak Sultan Tidore di Mansarij, Karandefur, Ambapura dan Umbarpon. Meski Benteng Du Bus tak bertahan lama, namun hal ini menandakan berkuasanya Belanda di Papua secara langsung, setelah selama ini mereka ‘berkuasa’ melalui perantara Kesultanan Tidore. Namun pada kenyataannya Belanda mengalami kesulitan mengontrol Papua bagian barat, terutama pesisir bagian selatan. Di wilayah itu (Fakfak), masyarakat pribuminya beragama Islam, dan secara struktur kekuasaan berbentuk kerajaan (pertuanan) sehingga lebih dekat kepada pengaruh Tidore.

Syi’ar Islam sejak bercokolnya Belanda di Papua, lebih banyak bergantung kepada umat Islam itu sendiri. Tahun 1910, Haji Abdul Majid mulai mendirikan pendidikan Islam di Jayapura dan mendirikan sebuah masjid pertama di Jayapura. Ia pulalah yang menjadi imam masjid tersebut. Di Merauke, tahun 1908, seiring dibukanya perkebunan kapas, pemerintah Belanda mendatangkan orang-orang Jawa di wilayah tersebut. Anak-anak pendatang ini kemudian mempelajari agamanya dengan bantuan guru mengaji.

Tahun 1930, Tengku Bujang, seorang yang berstatus diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda (Digulis), tiba di Merauke dan memulai dakwahnya dengan membangun Masjid Sepadin. Di Masjid inilah ia memulai khotbah Jumat dengan bahasa Melayu. Ia pula yang mempelopori Sholat Ied di lapangan. Di Merauke ia kemudian membentuk Muhammadiyah. Antara tahun 1933-1936 Muhammadiyah mengirimkan tiga orang mubaligh ke Papua, yaitu Ustadz Jais, Ustadz Asarar dan Ustadz M, Chatib.

Di Fakfak, Muslim Papua membentuk Kesatuan Islam Nieuw Guinea (KING), yang dipimpin oleh Raja Rumbati, yaitu Haji Ibrahim Bauw. Ia kemudian membuka sekolah Islam. Tahun 1933, bersama pembimbingnya, Daeng Umar, ia mendirikan Muhammadiyah Fakfak. Namun hal ini tak berlangsung lama, Haji Ibrahim ditangkap dan Daeng Umar diasingkan ke tempat lain. Tahun 1950, bahkan pekerja-pekerja Muslim yang ada di Jayapura dikembalikan secara besar-besaran ke luar Papua. Jayapura menjadi kosong dari penduduk Muslim. Masjid Jayapura pun dijadikan bar dan restoran.

Pemerintah Belanda memang beriskap diskriminatif terhadap muslim di Papua. Buku-buku agama Islam sulit diperoleh, sehingga didatangkan dari Jawa atau daerah lainnya. Pemerintah Belanda, hanya mendirikan sebuah sekolah untuk anak-anak muslim, yaitu Openbare Vervolg School (O.V.V.S), itupun dilakukan menjelang pengalihan kekuasaan Belanda pada Indonesia ditahun 1960an.

Syi’ar Islam di Papua semakin semarak sejak Papua bergabung dengan Indonesia. Pemerintah Indonesia mendirikan berbagai sekolah, termasuk sekolah pendidikan Agama Islam di Papua. Syi’ar Islam kembali menguat sejak dibukanya program transmigrasi di era Orde Baru.Muslim-muslim yang hadir di Papua meneruskan kembali dakwah Islam di Papua yang telah dimulai setidaknya sejak 500 tahun yang lalu, ketika Islam menjadi agama pertama yang masuk ke Papua.

Sumber:
Academia [http://www.academia.edu/29769576/Sejarah_Peradaban_Islam_di_Papua.docx]
Hidayatullah [http://m.hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2015/07/27/74628/500-tahun-islam-di-papua-dari-raja-ampat-hingga-sultan-papua-2.html]

loading...

Tuesday, November 3, 2015

Bersama Ilmu, Kita Takkan Kesepian

Apakah engkau merasa asing di tengah kerumunan manusia? Apakah engkau merasa ditinggal oleh sahabat-sahabatmu? Apakah engkau merasa hidupmu tak diacuhkan?

Bacalah renungan-renungan di bawah ini...

Ada seorang bijak ditanya oleh sahabat-sahabatnya:

"Siapa gerangan teman-temanmu?"

Orang bijak itu lantas menunjukkan buku-bukunya dan berkata:

"Inilah sahabatku...".

Lalu ia ditanya lag:

"Maksud kami, teman-teman darai kalangan manusia, siapakah?.."

Orang bijak itu kembali menjawab:

"Oh sangat banyak, yaitu para pengarang buku-buku  ini".

[Dari kitan Taqyiidul Ilmi halam. 125]

Salah seorang ulama bernama Nuaim bin Hammad pernah bercerita:

Seungguhnya Abdullah Ibn al-Mubarak selalu diam di rumah, sehingga ada yang bertanya:

"Tuan, tidakkah kamu merasa kesepian??.. "

Abdullah ibn al-Mubarak menjawab:

"Bagaimana saya kesepian, sementara  Nabi bersama saya?!".

Maksudnya, Ibn al-Mubarak ingin mengatakan bahwa ia tengah bersama-sama dengan Rasulullah Saw di saat menelaah hadits dan kitab-kitab sunnah.

***

Diriwayatkan pula dari  Syaqiq bin Ibrahim ia berkata:

"Ada seseorang bertanya pada Ibnul Mubarok:

"Tuan, ketika engkau selesai sholat bersama kita, mengapa tuan tidak duduk -duduk dahulu bersama kami?? "

Ibn al-Mubarak menjawab:

"Aku lebih suka duduk-duduk bersama shahabat dan thabi'in...".

Si penanya tercenang dan berkata:

"Bagaimana caranya Tuan bertemu shahabat dan tabi'in??"

Ibn al-Mubarak menjawab:

"Aku pergi melihat ilmuku (bukuku), maka aku temui jejak hidup mereka dan amalan mereka. Sementara dengan kalian, apa yang aku lakukan jika bersama kalian, kalian kerjanya membicarakan aib orang lain ( ghibah)?"

Kisah tersebut terjadi tahun 200 H.

 فالبعد من كثير من الناس أقرب إلى الله ، وفرّ من الناس كفرارك من أسد ، وتمسّك بدِينك يسلم لك

Maka menjauhlah dari kebanyakan manusia untuk mendekatkan diri pada Allah, larilah  dari manusia (yang buruk ) seperti lari dari singa , pegang teguhlah agamamu kamu akan selamat
📗"سير أعلام النبلاء8/398".
siyar a'lamun nubala /imam Adz-Dzahabi. 
loading...