Orang Rajin Bersedekah Itu Bahagia, begini penjelasan ilmiahnya...

Pernahkah kita merasakan, ketika kita mengeluarkan sedekah kepada orang yang membutuhkan, ketika kita bisa membantu meringankan beban orang lain, lalu muncul perasaan bahagian entara dari mana dalam lubuk hari kita?;

Thursday, October 11, 2018

[Kisah] Aku Tidak Sedang Membantu Istri...

Untuk pembaca yang sudah berkeluarga, mudah-mudahan kisan di bawah ini bisa menjadi renungan bagi kita semua dalam membina biduk rumah tangga.

***
Sebulan lalu temanku datang dari Cianjur ke rumah untuk silahturahim, kami duduk bersama dan mengobrol banyak tentang pengalaman kami kuliah di Saudi Arabia tepatnya di Kota Riyadh.

Di tengah pembicaraan, aku bilang :

Maaf ya bro...!!! "Aku mau nyucuci piring, tunggu sebentar ya"

Dia menatap ku seolah aku barusan bilang bahwa aku akan membangun sebuah roket.

Lalu dia berkata padaku dengan rasa kagum tapi sedikit bingung :

"Aku senang kau membantu istrimu. Kalo aku sih.... gak bantuin istriku, karena pas ku bantu, dia gak memujiku. Minggu lalu aku mengepel lantai dan dia gak ngucapin terima kasih."

Aku duduk lagi dan menjelaskan pada temanku ini, bahwa aku gak sedang "membantu" istriku.

Sebenarnya, istriku gak butuh bantuan, tapi dia butuh partner.

Aku adalah seorang partner di rumah dan kadang stigma di masyarakat yang membuatnya seolah suami dan istri memiliki peran yang berbeda soal pekerjaan rumah tangga.

Istri mengerjakan semua, dan suami tidak membantu. Atau kalaupun membantu, hanya sedikit saja. Tapi sebenarnya itu bukan sebuah "bantuan" untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Aku bukan sedang membantu istriku membersihkan rumah. Karena aku juga tinggal di rumah ini, maka aku perlu ikut membersihkannya juga.

Aku bukan sedang membantu istriku memasak. Tapi karena aku juga ingin makan, maka aku perlu ikut memasak.

Aku bukan sedang membantu istriku mencuci piring setelah makan. Tapi karena aku jugalah yang memakai piring-piring itu, maka aku ikut mencucinya.

Aku bukan sedang membantu istriku mengurus anak-anak nya. Tapi karena mereka adalah anak-anakku juga, maka sebgai ayahnya, aku wajib ikut mengasuh mereka.

Aku bukan sedang membantu istriku mencuci dan melipat baju. Tapi karena baju-baju itu jg milikku dan anak-anakku, maka aku ikut membereskannya juga.

Aku bukan sebuah Bantuan di rumah, tapi aku adalah Bagian dari rumah ini.

Dan soal pujian, aku memintamu wahai temanku, nanti setelah istrimu membersihkan rumah, mencuci baju, mengganti sprei, memandikan anak, memasak, membereskan barang, dll,

kau hrs mengucapkan terima kasih padanya, tapi harus ucapan terima kasih yang spesial, seperti :

"Wow, Sayangkuu!! Kamu hebatt!!!

Apa itu terasa konyol bagimu? Apa kau merasa aneh?

Padahal ketika kau, cuma sekali seumur hidup mengepel lantai, lalu setelah selesai kau mengharapkan sebuah pujian besar dari istrimu, apa itu gak lebih aneh ?

Pernahkah kau berpikir sejauh itu?

Mungkin karena bagimu, budaya patriaki mengukuhkan bahwa semua pekerjaan rumah adalah tanggung jawab istri.

Mungkin kau kira, mengerjakan semua pekerjaan rumah yang banyak itu, bisa diselesaikan tanpa menggerakkan jari?

Maka hargai dan puji istrimu seperti kau ingin dihargai dan dipuji, dengan cara dan perlakuan yang sama.

Maka ulurkan tanganmu untuk membantunya, bersikaplah seperti Partner sejati. Bukan seperti tamu yang datang hanya untuk makan, tidur, mandi dan terpenuhi kepuasannya.

Merasa nyamanlah di rumahmu sendiri.

Perubahan nyata dari masyarakat, dimulai dari rumah kita. Mari ajarkan anak lelaki dan perempuan kita, arti sebenarnya dari kebersamaan keluarga.

***
Sumber: WA
loading...

Wednesday, October 10, 2018

Apapun Profesi Kita, Dakwah Itu Wajib !

Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda:

عن أبى رافع قال , قال النبى صلى الله عليه وسلم لَأَنْ يَهْدِىَ اللَّهُ على يَدَيْكَ رَجُلاً خَيرٌ لَكَ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيهِ الشَّمْسُ وَغَرَبَتْ 

Dari Abi Rafi dia berkata bahwa Nabi SAW telah bersabda: Jika ditunjukkan seorang manusia mengikuti jalan Allah melalui daya usahamu, ia adalah lebih baik daripada bersedekah dengan semua harta benda dari naiknya matahari hingga terbenamnya matahari.

 (HR At-Tabroni No: 18250)

Hadits di atas mengetengahkan beberapa makna yang dapat difahami, di antanya bahwa tugas setiap Muslim adalah meneladani Rasulullah SAW untuk menyampaikan dakwah kepada orang lain. Jadilah suporter kebaikan,  jangan justeru sebaliknya menjadi penghalang dan penghambat dakwah. Bentuk dakwah dalam Islam merangkul bukan memukul, menyambut bulan menyambit, menggembirakan bukan menyengsarakan, mempermudah bukan mempersulit, menyatukan bukan membubarkan, mempererat ikatan persaudaraan bukan memecah dan memutuskan persaudaraan, dsb.

Selain itu, hadits tersebut juga mengandung makna bahwa tanggungjawab berdakwah, mengajak orang lain kepada jalan Allah dan menjauhi kemungkaran adalah tugas yang mulia yang ganjarannya lebih baik daripada dia bersedekah semua harta yang ia punyai dari matahari naik hingga terbenam.

Oleh karena itu teladan pedagang Gujarat menjadi Ibrah untuk kita, betapa semangat dalam berdakwah hingga sampai di Nusantara dan kita mendapatkan nikmat Islam melalui perantaraan mereka. Saudagar itu profesi mereka, tetapi dakwah menjadi tanggung jawabnya. Alhamdulillah Nusantara menjadi muslim terbesar di dunia karena peran mereka. Sungguh pahala jariyah yang tak terhingga.

Dalam hadis yang lain, dari Sahal bin Sa'ad RA, Rasulullah SAW bersabda:

فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِىَ اللَّهَ بِكَ رَجُلٌ وَاحِدٌ خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ

Artinya:
Demi Allah, bila ada satu orang saja yang mendapat petunjuk melalui dirimu maka itu lebih baik bagimu daripada memiliki unta-unta merah (semulia-mulia harta orang Arab) ". (HR Bukhari No: 2724)

Menjadikan orang mengenal dan memeluk Islam sungguh kebaikan yang utama, daripada sekedar memperoleh pundi-pundi keduniaan yang bila meninggal belum tentu menjadi penolong kita di akhirat.

Tugas berdakwah ini tidak hanya kepada orang tertentu saja, tetapi ia menjadi tanggungjawab bersama setiap orang yang merasa memiliki Islam, tanpa dibatasi profesi, gelar, jabatan, status, dan atribut orang tersebut.  Untuk dakwah adalah kewajiban kita semua nya, bukan tugas Kyai, Tuan Guru, Buya, Ustadz, Mubaligh Da'i, dsb.

Yang termasuk berdakwah di jalan Allah adalah menjelaskan eksistensi Allah pada hamba-Nya dengan menyebut berbagai nikmat-Nya, luasnya karunia dan kesempurnaan rahmat-Nya, juga menjelaskan kesempurnaan sifat Allah dan kemuliaan-Nya, menjelaskan cara mendekat kepadaNya dalam bentuk ibadah, dan menjelaskan bagaimana hidup menebar kedamaian dan kebermanfaatan kepada alam sekitarnya, terlebih lagi kepada sesama manusia.

Yang termasuk berdakwah di jalan Allah adalah menyemangati umat dengan membawakan berbagai kutipan ilmu dan petunjuk dari Al Qur’an dan hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wa salam, hal ini dengan menempuh berbagai cara yang mengantarkan padanya. Termasuk dalam hal ini adalah menjelaskan akhlak yang mulia, berbuat ihsan kepada seluruh makhluk, membalas setiap kejelekan dengan kebaikan, memerintahkan untuk menyambung hubungan dengan kerabat dan berbakti pada orang tua.

Firman Allah Subhanahu wata'ala yang berkaitan dengan tema hadits tersebut adalah

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Yang Memiliki Perkataan Terbaik, Siapa Mereka?

Ibnu Katsir berkata, “Orang yang paling baik perkataannya adalah yang mengajak hamba Allah ke jalan-Nya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 12: 240)

Yang dimaksud “مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ”, da’i di jalan Allah adalah da’i yang memberi pengajaran pada orang-orang, memberi peringatan pada orang yang lalai,  mendorong untuk beribadah kepada Allah dalam segala macam bentuk peribadahan, serta menyeru untuk memperbagus ibadah sesuai kemampuan. Da’i tersebut juga memperingatkan dengan keras larangan-larangan Allah, menjelaskan jeleknya larangan tersebut dan wajib untuk menjauhinya. Materi dakwah yang utama adalah memperbaiki ushulud diin (aqidah), menyanggah hal-hal yang bertentangan dengan ushulud diin tersebut dengan cara yang baik, melarang dari kekufuran dan kesyirikan.
loading...

Tuesday, October 9, 2018

Nasihat Adalah Wujud Ungkapan Cinta

Nasehat adalah tanda ungkapan cinta seseorang. Nasehat seorang ibu kepada anaknya adalah bukti cinta dan kasih sayang seorang ibu.

Nasehat dari seorang sahabat adalah tanda kasih sayang dan perhatian darinya. Begitulah Islam mendidik kita agar selalu menasehati dan mengingatkan antar sesama. Sebagaimana sabda Nabi saw :

الدين النصيحة
"Agama adalah nasehat"

Hadist diatas menunjukkan sangat pentingnya sebuah nasehat dalam agama. Dan begitulah yang dapat kita lihat dalam kehidupan Rasulullah saw. Ucapan beliau penuh dengan mutiara hikmah. Tak jarang beliau menasehati para sahabat-sahabat beliau dengan mutiara-mutiara hikmah yang keluar dari lisan mulia beliau.

Dan diantara mutiara hikmah Rasulullah saw kepada sahabat beliau, adalah nasehat beliau kepada seorang sahabat yang bernama Abu Dzar Al Ghifari. Dan inilah isi nasehat beliau :

يا ابا ذر ، جدّد السفينة فإن البحر عميق، وخذ الزاد كاملا فإن السفر بعيد، وخفّف الحمل فإن العقبة كئود، واخلص العمل فإن الناقد بصير

"Wahai Abu Dzar... Perbaikilah kapalmu, karena lautan sangat dalam. Bawalah bekal yang sempurna, karena perjalananmu jauh. Ringankanlah beban muatanmu, karena rintangan-rintangannya berat sekali. Dan ikhlaslah dalam beramal, karena sesungguhnya Yang Maha Meneliti, Maha Melihat."

Yang dimaksud memperbaiki kapal disini adalah memperbaiki niat, agar semua perbuatan dapat berfungsi sebagai ibadah dan ladang pahala, guna keselamatan dari adzab Allah.

Perjalanan yang jauh disini, maksudnya adalah perjalanan akhirat. Sedang beban muatan adalah beban pertanggungjawaban urusan duniawi. Perjalanan akhirat diumpamakan laut yang dalam, perjalanan jauh dan bukit terjal karena sama-sama banyak kesulitan dan rintangannya.

Sedangkan nasehat 'ikhlaslah dalam beramal' karena Allah swt, Yang Maha meneliti, meneliti secara cermat perbuatan baik dan buruk.

Menasehati, bukan berarti lebih mulia. Dinasehati, bukan berarti lebih hina.

Saling menasehati bukankah  wujud cinta ... Juga wujud indahnya ukhuwwah ... Jika menunggu yang sempurna untuk menasehati , lalu kapan indahnya kebaikan agama islam akan tersebarluaskan..... ??!!

📚Sumber : kitab nashoihul ibad
loading...

Monday, October 8, 2018

5 Kiat Untuk Keluar Dari Masalah

Dalam hidup ini, kita sering dihadapkan dengan berbagai persoalan. Sampai suatu ketika, kita merasa seperti terjebak dalam gua. Dalam gua itu merasa gelap, kita butuh secercah cahaya. Namun sayang, pintu gua itu tertutup batu. Untuk menggeser batu itu, tidak mungkin, karena sangat berat.

Begitu juga dalam hidup kita, terkadang kita dihadapkan pada masalah besar. Masalah tersebut lebih besar dari kemampuan kita. Kita coba mencari solusi, namun tak satupun dapat menyelesaikannya. Kita merasa buntu. Merasa, tak ada jalan keluar.

Betulkah tidak ada solusi?

Sebelum kita menjawab pertanyaan tersebut, alangkah baik kita merenungi hadis Nabi yang tercantum dalam kitab Riyadush Shalihin Bab Ikhlas karya Imam Nawawi.

Dari Abu Abdurrahman ‘Abdullah bin Umar bin Khattab r.a., ia menuturkan: Aku mendengar Rasulullah SAW bercerita:

Pada masa sebelum kalian, ada tiga orang yang berjalan-jalan sampai malam dan mereka bermalam di dalam gua. Tiba-tiba, setelah mereka masuk dalam gua itu, ada batu besar dari bukit runtuh dan menutupi pintu gua sehingga mereka tidak bisa keluar.

Salah satu dari ketiganya berkata, ”Kita tidak akan mampu keluar dari gua ini, kecuali kita berdo’a kepada Allah dengan menyebutkan amal-amal terbaik kita. Mudah-mudahan dengan itu, Allah mengeluarkan kita dari gua ini.”

Dan mereka pun akhirnya berdoa.

Orang pertama bermunajat, ”Ya Allah, dulu saya memiliki orang tua yang sudah tua renta. Setiap hari setelah bekerja di kebun, saya selalu menyuapi mereka untuk minum susu. Tapi suatu hari, karena kejauhan mencari kayu bakar, saya terlambat untuk pulang ke rumah. Saya dapati kedua orang tua saya ternyata sudah tertidur. Saya tidak berani membangunkannya untuk minum susu sedang wadah susu sudah berada di tangan saya. Pada waktu itu, anak dan istri saya meminta susu, yang biasanya tersisa setelah orang tua saya minum. Tetapi saya menolaknya. Saya tunggui orang tua saya sampai mereka bangun waktu fajar datang. Akhirnya saya meminumkan susu untuk mereka. Ya Allah, sekiranya apa yang saya lakukan itu ikhlas karena mengharap ridho-Mu, maka bukakanlah pintu gua ini”. Dan batu yang menutupi gua itu, bergeser sedikit.

Orang kedua melanjutkan berdoa, ”Ya Allah, dulu saya memiliki sepupu yang sangat cantik, yang aku cintai. Pada suatu ketika tiba masa paceklik dan dia datang kepadaku untuk meminjam uang 120 dinar. Saya berkata padanya, ’Saya akan meminjamkan uang kepadamu, asal kau mau tidur denganku.’ Awalnya dia menolak. Tapi lama kelamaan dia terpaksa menerima karena dia sangat butuh uang itu. Akhirnya saya pun, sudah akan berzina dengannya. Tapi sebelum saya berzina dengannya, dia berkata, ’Bertakwalah kamu kepada Allah!’ Tiba-tiba saya mengalami ketakutan yang luar biasa. Saya memberikan uang itu kepadanya dan setelah itu saya berlari keluar sekencang-kencangnya. Ya Allah sekiranya yang saya lakukan itu ikhlas karena takut kepada-Mu, maka bukakanlah pintu gua ini.” Dan batu yang menutupi gua itu, bergeser lebih lebar.

Orang ketiga melanjutkan berdoa, ”Ya Allah, dulu saya memiliki seorang pegawai yang ingin saya berikan gajinya. Tapi tiba-tiba dia pergi entah kemana. Uang gaji itu kemudian saya belikan domba. Domba itu beranak pinak. Kemudian saya belikan unta. Dan unta pun juga beranak pinak menjadi banyak. Jumlah mereka hampir mencapai satu padang gembalaan. Setelah sekian tahun lama dia pergi, tiba-tiba pegawai saya itu datang. Dia berkata, ’Ya Tuan, saya kesini bermaksud meminta gaji saya dulu, yang belum sempat saya ambil karena suatu hal.’ Saya menjawab, ’Engkau lihat padang gembalaan yang penuh dengan kambing dan unta itu?’. Dia berkata, ’Ya, saya melihatnya.’  Kemudian saya melanjutkan, ’Itu semua adalah milikmu, gajimu sudah saya belikan kambing, unta dan beranak pinak. Maka ambillah!’ Dia pun mengambil semuanya tanpa bersisa. Ya Allah, sekiranya apa yang saya lakukan itu ikhlas karenaMu, maka bukakanlah pintu gua ini.” Dan batu gua itu bergesar lebih lebar lagi. Mereka bertiga pun akhirnya bisa keluar dari gua itu.

Dari hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim tersebut, ada banyak pelajaran yang dapat kita petik. Cerita dalam hadis ini, mengajarkan kepada kita cara atau kiat keluar dari masalah besar yang sedang kita hadapi, sebagai jawaban dari pertanyaan di awal. Setidaknya ada 5 kiat agar kita keluar dari masalah:

Kiat #1: Berdo’a kepada Allah SWT.

Do’a adalah senjata orang beriman. Do’a adalah inti dari ibadah. Ketika kita dihadapkan dengan masalah, berarti itu tanda Allah menginginkan kita dekat dengan kepada-Nya. Dia ingin kita beribadah kepada-Nya sungguh-sungguh. Dengan ibadah dan do’a ini, kita akan mengagungkan Allah SWT. Sehingga kita bisa berkata dengan diri sendiri, “Wahai diri, jangan katakan aku memiliki masalah besar, melainkan katakan aku memiliki Allah Yang Maha Besar!”

Dalam berdo’a ini kita harus memperhatikan adab-adab berdo’a sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Terutama kita harus menjaga makanan, minuman, serta pakaian dari hal-hal yang haram dan syubhat. Berdo’a dengan khusyu. Dan yakin Allah pasti mengambulkan do’a. Sebab, semua do’a kita ijabah oleh Allah, hanya saja ada yang segera, ada yang ditunda dan ada yang diganti dengan hal yang lebih baik.

Kiat #2: Bertawasul dengan hal disyari’atkan Allah dan rasul-Nya.

Tawassul adalah mengambil sarana/wasilah agar do’a atau ibadah kita dapat lebih diterima dan dikabulkan oleh Allah SWT. Dalam Islam ada 6 bentuk tawashul yang dibolehkan, yaitu: 1). Bertawassul dengan menyebut asmaa-ul husna (nama-nama Allah) yang sesuai dengan hajatnya ketika berdo’a (QS. Al-A’raf [7]:180); 2). Bertawassul dengan sifat-sifat Allah Ta’ala; 3). Bertawassul dengan keimanan kepada Allah Ta’ala (Qs.Ali-Imran[3]:193); 4). Bertawassul dengan ketauhidan kepada Allah. (QS.Al-Anbiya[21]:87-88); 5). Bertawassul dengan amal shalih; dan 6). Bertawassul dengan meminta doanya orang shalih yang “masih hidup”.

Dalam hadis di atas, merupakan contoh tawasul melalui amal sholeh. Orang pertama bertawasul dengan amal sholeh berbuat baik kepada kedua orang tua; orang kedua bertawasul dengan amal sholeh meninggalkan zina karena takut kepada Allah; dan orang ketiga bertawasul dengan amal sholeh menepati janji, menjaga amanah, dan memberikan haknya secara tulus kepada orang lain.

Kiat #3: Berbakti dan meminta do’a-restu kepada kedua orang tua.

Adakalanya masalah besar yang dialami seseorang, karena hubungannya dengan kedua orangtuanya tidak harmonis. Misalnya, ada seorang perempuan sangat ingin menikah, sebab umurnya sudah hampir baya. Setiap kali dia ingin menikah, selalu saja kandas, bahkan batal ketika dia dan calon suaminya menyepakati hari pernikahan. Kegagalan demi kegagalan selalu dia alami.

Suatu ketika dia curhat dengan seniornya. Seniornya yang telah menikah itu, bertanya, “Bagaimana hubunganmu dengan ibumu?” Perempuan itu tidak menjawab. Dia menangis. Selama ini memang dia telah melupakan ibunya, padahal ibunya masih hidup. Waktu itu pula dia menelpon ibunya minta maaf atas kealfaannya selama ini. Tak berapa lama, di hari itu juga, tiba-tiba ada teman lamanya menghubunginya, dan mengajaknya menikah. Mereka pun menikah dan dikarunia anak.

Mungkin, masalah besar yang kita hadapi, ada hubungannya dengan masalah kita dengan kedua orang tua. Bisa jadi, kita menyadari telah mengecewakan, menyakiti dan membuat ortu kita tersinggung, terutama kepada ibu. Oleh sebab itu, agar kita keluar dari masalah, hendaknya minta maaf kepada ortu dan minta do’a mereka. Sebab do’a ibu-bapak terhadap anaknya akan diijabah oleh Allah SWT. Bahkan terkadang, banyak orang salah alamat mencari sosok “keramat” dengan mengunjungi kuburan, padahal di rumah ada sosok “keramat” (mulia) yaitu ortu, terutama ibu. Bukankah surga itu berada di bawah telapak kaki ibu?

Kiat #4: Menjaga diri dari perbuatan maksiat dan berdosa.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah telah meneliti akibat kemaksiatan, menurutnya ada 22 akibat maksiat, diantaranya –yang berhubungan dengan pembahasan kita– : terhalangnya mendapatkan ilmu; terhalangnya mendapat rezeki halal; semakin jauh kepada Allah; semakin jauh dari orang sholeh dan membuat semua urusannya sulit atau bermasalah.

Tidak sedikit, orang yang melakukan maksiat dan perbuatan dosa ketika dihadapi masalah. Misalnya, ada yang bermasalah secara finansial atau keuangan, menyelesaikannya dengan cara korupsi, mencuri, menipu dan sejenisnya. Dia sangka itu akan menyelesaikan masalah, padahal sebaliknya menambah masalah. Ketika kita bermasalah, malah pilih solusi yang tanpa masalah.

Dengan kata lain, ketika kita memiliki masalah, berarti ada kemaksiatan atau perbuatan dosa yang telah kita lakukan mungkin itu tanpa kita sadari. Oleh sebab itu, ketika kita dihadapkan dengan masalah, cepat-cepatlah beristighfar dan bertaubat. Kita pergunakan waktu malam hari memperbanyak istighfar dan taubat kepada Allah SWT.

Kiat #5: Menepati janji, menjalankan amanah dan bersikap dermawan.

Selain telah kita bahas di atas, ada juga masalah itu muncul karena kita tidak menepati janji, tidak amanah dan tidak mau berbagi kepada orang lain. Bisa jadi, janji itu bukan kepada orang lain, melainkan kepada diri kita sendiri, misalnya kita berjanji melakukan sesuatu ketika kita meraih sesuatu, ini kita kenal dengan nazar. Atau amanah yang Allah berikan kepada kita, namun kita sia-siakan, misalnya Allah mengamanahkan kepada kedua orang tua untuk menjaga anak-anaknya, namun tidak diajaga secara baik. Begitu juga akar masalah itu bisa dari sifat pelit kita kepada orang lain, sehingga Allah berlepas tangan untuk membantu kita sebab Allah akan membantu seorang hamba selama hamba itu membantu orang lain.

Ada banyak ayat, hadis dan kisah tentang shadaqah yang membawa berkah, sehingga masalah seseorang teratasi. Ada yang sembuh dari penyakit kronis, karena rajin shadaqah. Ada yang terlepas dari lilitan utang, karena rajin shadaqah. Ada rizkinya bertambah, karena gemar shadaqah. Ada hubungan menjadi harmonis, karena shadaqah.

Semoga kita dapat mengamalkan 5 kiat tersebut dalam kehidupan kita, agar kita keluar dari masalah yang kita hadapi. Wallahu a’lam bish shawab.

***
Sumber: Dikutip dari: Tulisan Udo YM di laman :  https://www.wasathiyyah.com/kajian/kehidupan/08/10/2018/5-kiat-keluar-dari-masalah/
loading...

Biasakan Anak Ke Masjid... Dan Ketahui Hak-hak Anak Terkait Masjid

Tulisan kali ini mengajak kita semua untuk berbagi pengalaman , agar anak-anak punya hak untuk berada di dalam Masjid

Sudah bukan menjadi rahasia lagi, banyak orangtua yang beranggapan kalau anak-anak kehadirannya tidak begitu diharapkan di dalam masjid

Bahkan, anak-anak dianggap pengganggu kekhusyukan dalam beribadah. bahkan ada masjid yang terang-terangan menulis larangan anak masuk masjid

Bahkan ada orang dewasa yang tak segan-segan menghardik atau mengancam mereka jika bermain dan bercanda. Akhirnya Masjid pun menjadi tempat menyeramkan dalam pandangan anak-anak.

Akibatnya, anak-anak pun mencari tempat alternatif hiburan. Mereka pun memilihi warung-warung playstation atau game online sebagai pelampiasan. Permainan menyenangkan. Penjaganya pun menyambut ramah.

Akhirnya pihak masjid pun susah mencari kader remaja masjid. Banyak remaja yang menolak, sebab waktu kecil selalu 'dimusuhi' saat di masjid

Padahal, Sifat Allah yang Maha Rahman tak muncul dlm perilaku sebagian pengurus masjid yang galak dan suka bentak anak di masjid

Akhirnya anak-anak lebih mengenal Allah yang Mahakeras siksanya dibandingkan Maha RahimNya. Sbb mereka banyak dihukum dan  dimarahi jika bermain-main di masjid

Pun jika ada anak yang sungguh-sungguh ibadah. Ternyata banyak mereka yang tak layak ada di shaf depan. Padahal mereka datang sejak awal ke. masjid

Padahal hak ada di shaff depan adalah yang datang duluan, bukan berdasarkan usia masjid

Kadang saat sholat jumat pun, khatib lupa menyapa anak-anak. Lebih fokus kepada jamaah dewasa. anak-anak dianggap warga kelas dua di masjid

Masjid sebagai pusat display agama, seharusnya menjadi tmpt untuk mengajarkan hakikat islam sesungguhnya : kasih sayang dan keramahan di masjid

Tidak berminatnya remaja saat ini terhadap Islam, sebagian besar karena trauma di masa kecil akan tampilan islam khususnya di masjid

Masjid kalah bersaing dgn mall, warnet dan tempat permainan lain dimana penjaganya ramah dan murah senyum dibanding di masjid

Banyak jamaah berebut menjalankan sunah di masjid. Lupa akan sunah yang lain yang diajarkan rasul : memuliakan anak-anak di masjid

Sungguh indah saat rasul membawa cucunya, umamah dan husain ke masjid. Digembirakan mereka dgn digendong seraya bermain di masjid

Demi memuaskan husain bermain di masjid, Rasul melamakan sujudnya agar ia puas menungganginya seperti kuda. Tak memarahinya di masjid

Sahabat menduga lamanya sujud akibat datangnya wahyu. Mereka salah. Rasul menyengajakannya supaya anak-anak puas bermain di masjid

Kisah-kisah Rasul yang memuliakan anak di masjid mngkn jarang trdengar/sengaja dilupakan sbagian orang. Pdhl mrk mngaku pncinta rasul.

Alhamdulillah sebagian pengurus masjid yang melarang anak-anak, akhirnya ada juga yang tercerahkan meski awalnya marah-marah di masjid

Bahkan ada yang berinisiatif membuat ruang bermain bg anak-anak serta menyediakan pampers bagi anak-anak masjid

Biarlah anak betah bermain di masjid daripada memilih bermaih di tempat lain yang menjauhkan mereka dr agama. dan masjid

Jika  sudah merasa nyaman di masjid. Barulah buat peraturan. Kapan harus bermain dan kapan harus ibadah. Mereka tentu bisa menerima di masjid

Indahnya Jika  anak-anak saat waktu luang, izin ke ortunya untuk pergi ke mesjid. Berlama-lama di sana. Masjid pun ramai. Oleh kegiatan di masjid

Orang dewasa lain yang malas ke masjid pun jadi bergairah melihat masjid yang ramai. Jadilah setiap masyarakat memakmurkan  masjid

Jika  masjid ramai, maka tak ada lagi yang ribut dgn perang2 kelompok, begal dan kenakalan-kenakalan lain. Sebab mrk semua hatinya terpaut ke masjid

Jadi dari skarenag, mari buat masjid  sebagai tempat yang nyaman, ramah, bersih dan menyenangkan bagi anak-anak. Kelak mereka yang akan memakmurkan masjid

Mulailah sekarenag bikin iklan ke warnet-warnet dan game online, bahwa masjid skarenag punya tempat bermain. Niscaya warnet sepi dan semua ke masjid

Mudah-mudahan ada pengurus masjid  yang membaca tulisan ini dan memulai gerakan ajak anak ke masjid semoga terwujud

Sumber: WA
loading...