Wednesday, October 28, 2015

Berfikir Ulang Tentang Demokrasi: [Bagian II : 8 Alasan Mengapa Demokrasi Tidak Cocok untuk Indonesia]

Bagi banyak orang, demokrasi adalah sistem final yang mesti diterapkan untuk mencapai kesejahteraan suatu negara.

Namun benarkah demikian? Pada tulisan sebelumnya telah dikemukakan tentang banyak negara maju dan makmur yang ternyata tidak menerapkan sistem demokrasi, tapi justru monarki misalnya. Sebaliknya, banyak juga negara yang sangat demokratis tapi justru tidak merasakan kemakmuran (Selengkapnya silakan baca di SINI)

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Saat ini Indonesia termasuk salah satu negara demokrasi terbesar di dunia setelah Amerika Serikat.

Beberapa waktu lalu, admin menemukan sebuah tulisan yang cukup menarik di sebuah forum internet tentang tidak sesuainya sistem demokrasi bagi Indonesia. Persepsi ini didukung oleh beberapa alasan. Admin sendiri sampai saat ini belum bisa memutuskan apakah persepsi itu benar atau salah. Tapi karena menarik, ada baiknya kita share saja di laman ini, yah hitung-hitung memperkaya paradigma.

Berikut paparan alasan-alasan mengapa demokrasi tidak cocok untuk Indonesia (menurut sebuah versi, dengan perubahan redaksi seperlunya):

1. Demokrasi Sejatinya Sistem Import Penjajah
Apakah demokrasi asli Indonesia? Sejarah mencatat bahwa Indonesia dibangun melalui konsensus para raja yang ada di Nusantara, dan kerajaan lah yang awalnya menjadi dasar dari pemerintahan ribuan pulau yang di masa depan menjadi Indonesia.

Nusantara dulunya disatukan dengan semangat kerajaan, bukan dengan semangat demokrasi. Kemudian datanglah penjajah Barat yang merusak tatanan itu dengan standar politik kolonialismenya. Setelah era kolonialisme, mereka meninggalkan hegemoni dengan bentuk nation-state, lantas mencetuskan ide Republik dan Serikat. Kemudian diimporlah sistem pemerintahan yang disebut demokrasi saking rindunya janji kemerdekaan untuk diakui negara-negara besar dunia akibat telah dijajah berabad-abad lamanya.

Demokrasi adalah penjajahan model baru di era modern. Saat negara mendeklarasikan kemerdekaan, kita pikir rakyat akan lepas sepenuhnya dari perbudakan penjajah, dari imperialisme asing, dari propoganda barat, dan dari semua bentuk intervensi luar terhadap kedaulatan kita.

Sayangnya hukum yang berlaku saja masih mengadopsi hukum asing dari negeri invaders, itu artinya sebuah negara telah sukses dijajah, bahkan lebih dalam dan jauh. Kapankah penjajahan benar-benar sukses? Disaat mereka menjajah suatu negara sementara negara itu tidak tahu mereka sedang terjajah.

2. Partai Politik Penuh Kepentingan dan Kekuasaan Pribadi
Semua partai politik di Indonesia bekerja untuk kepentingan membernya, tidak ada yang benar-benar murni mengabdi untuk rakyat. Adakah yang berani berteriak partai mana yang orang-orangnya murni bekerja untuk kesejahteraan bangsa?

Semua partai punya kepentingan masing-masing, selain fakta bahwa Partai membuat masyarakat tidak bisa bersatu. Setiap tahun dalam era kampanye partai-partai banyak yang bertikai dan saling fitnah atau black campaign, masyarakat yang polos dan bingung jadi korban. Bukankah ada slogan negara tidak akan maju kalau kita tidak bersatu? Bagaimana rakyat bisa bersatu dengan belasan partai politik?

Sistem lain seperti monarki tidak mengasuh partai, keadaan rakyatnya jadi bersatu, baik bersatu dalam bekerja untuk kemakmuran maupun bersatu dalam pemberontakan karena termakan hasutan.

3. Rakyat Indonesia masih awam dalam Hal Memilih
Hal ini tidak bisa dipungkiri, masyarakat kita secara umum mayoritasnya masih awam dalam hal memilih. Bagaimana pengalaman anda sewaktu pertamakali mencoblos?

Banyak orang yang langsung main tusuk saja, dikarenakan juga tidak tahu nama-nama yang ada, tentu banyak sekali yang begini bahkan hampir semuanya. Kalaupun ada yang tahu nama yang tertulis, paling karena itu tetangganya atau orang sekampungnya.

Masyarakat juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan karena hal ini. Tapi pertanyaannya: Mungkinkah orang hebat bisa terlahir jadi pemimpin dengan cara seperti ini? Jadi ini sama dengan anak yang UN tapi melobangi jawaban secara serampangan tanpa tahu apa-apa bahkan tanpa membaca jawabannya terlebih dahuli, alias anak itu bodoh.

Banyak yang bilang satu suara sangat berharga dalam Pemilu. Tapi yang lain mengatakan: tidak ada gunanya lah satu suara orang cerdas dibanding seratus suara orang bodoh.

4. Rakyat Indonesia Malas Mencari Informasi dan Terbuai Asupan Media
Banyak yang tidak tahu bagaimana sosok calon pemimpin dan perwakilan yang dipilihnya, karena memang informasi yang terbatas sekaligus juga membuat orang malas.

Apa mungkin kita bisa mencoblos dengan yakin hanya oleh spanduk wajah, logo partai, dan slogan sederhana macam "kami anti korupsi"?

Pastinya banyak warga ingin memilih yang berkualitas, sayangnya informasinya sangat sulit didapatkan, yang menang adalah media. Banyak yang berprestasi dikampung-kampung tapi tidak terpilih, justru yang terpilih adalah mereka artis-artis  dan penyanyi-penyanyi yang tidak jelas andilnya untuk bangsa. Kalau hal seperti ini terus terulang, yakin bisa maju?

Lihat saja dampak dari pemilihan langsung di tiap daerah, ratusan pemilu langsung diselenggarakan, bukannya menghasilkan pemimpin yang kredibel, melainkan pemimpin-pemimpin korup yang hanya mementingkan kelompok dan golongannya sendiri. Kalaupun ada pemimpin yang benar-benar merakyat, kita hanya bisa menghitungnya dengan satu tangan yang terdiri dari 5 jari, padahal Indonesia terdiri dari ribuan pulau. Ironis bukan?

5. Calon Pemimpin yang Lewat Jalur Demokrasi Sibuk Mencitrakan Diri Sendiri
Banyak orang yang sama sekali tidak tahu sebenarnya apa yang sudah dilakukan seorang politikus untuk negara ini. Tapi, meski tanpa prestasi kenegaraan, tapi pencitraannya di mana-mana sudah dilakukan demi menghadapi Pemilu selanjutnya.

Secara massive dia menampilkan dirinya dipertelevisian untuk memanfaatkan poin sebelumnya. Mungkin dia akan menang dengan cara ini, tapi itu tidak akan pernah jadi kemenangan negara ini.

6. Pemilu Membuang-buang Anggaran dan Memiskinkan Negara
Berapa anggaran negara yang digelontorkan setiap diadakannya aktivitas Pemilu? Milyaran sampai Trlyunan rupiah!!!

Pemilu meski tidak berguna dan hanya membuang-buang waktu dan tenaga semata, tapi telah menghabiskan dana yang bukan main. Dana fantastis yang dapat dialokasikan untuk sektor lain, justru dihabiskan untuk Pemilu yang penuh manipulasi dan kecurangan. Pemilu tetap jalan, rakyat tetap miskin.

Bandingkan misalnya dalam sistem monarki tidak ada aktivitas Pemilu, rata-rata pemimpinnya dipilih oleh musyawarah orang yang ahli, bukan tusukan jutaan orang yang awam. Hasilnya, dana yang ada bisa digunakan untuk melanjutkan pemerintahan selanjutnya siapapun yang memimpin. Terbukti, rakyat tetap makmur dan sejahtera, bahkan ada yang negaranya menjadi yang terkaya di dunia.

7. Pemilu Tanpa Kecurangan adalah Bohong
Di setiap pemilu, ada saja yang bertugas sebagai "Pelambung" suara. Intinya, Pelambung ini bertugas untuk membagi-bagikan uang bagi siapa yang memilih apa yang diinginkan boss si Pelambung.

Satu suara bisa seharga lima puluh ribu, dan satu TPA bisa diisi oleh 5 Pelambung. Dalam pikiran mereka, siapapun yang terpilih juga tidak akan membawa manfaat apa-apa, jadi lebih baik menerima uang diawal. Tiap periode pemilu penuh politik uang dan tipu daya yang terorganisir, dari satu orang yang bisa mencoblos 10 Surat Suara, sampai Kotak Suara yang dimanipulasi isinya dan hasilnya dimark-up dengan mudah.

Baik di kampung-kampung maupun di kota-kota melakukan hal yang sama. Selama Pemilu masih ada dan berlangsung, maka selama itu pula fenomena ini terus ada dan terjadi.

Memang ada slogan "terima uangnya, jangan pilih orangnya", tapi ini tinggal slogan, cara berfikir ini selalu dikalahkan oleh paradiga "semua calon sama saja, lebih baik pilih yang pasti-pasti saja, yang ini sudah pasti ngasih duit, yang 'jujur' itu juga belum tentu jujur'

8. Demokrasi Membuka Peluang Negara Dikuasai oleh Pihak Asing
Inilah faktanya, negara besar dan kuat yang menerapkan demokrasi, dengan mudah dapat menyelami kekayaan alam negara kecil dan lemah yang menerapkan demokrasi.

Tidak perlu jauh berbicara negara-negara di Timur Tengah, yang karena demokrasi invasi dan konflik bersenjata terus terjadi. Coba kita lihat saja di Indonesia tercinta, dengar-dengar Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam, iya kan? Lantas kenapa kita masih tercekik permasalahan ekonomi dimana-mana? Apakah keberadaan tambang-tambang asing itu bukan bentuk penguasaan asing? Bahkan trilyunan ruipiah ke asing itu bukan penguasaan asing? Kita dikuasai asing secara mental dan material, tapi banyak yangf pura-pura tidak tahu.

Nah, Itulah poin-poin alasan mengapa Indonesia tidak bisa lagi mengandalkan demokrasi dalam sistem pemerintahannya. Ini hanya masalah teritori dan keadaan sosial. Mungkin banyak negara-negara Barat sukses menerapkan demokrasi, namun Indonesia bukanlah Barat, Indonesia tidak akan mengkuti kesuksesan mereka, Indonesia hanya akan menjadi terkaman sedap sistem demokrasi yang gagal dan buruk, sama seperti negara di Timur Tengah.

Banyak yang menilai bahwa Pemilu dengan demokrasi adalah racun. Kita bisa terus melanjutkan kegagalan sistem ini, tapi jika berpikir dengan begitu negara mungkin bisa maju, maka sebaiknya kita mulai memikirkan diri sendiri, ketimbang mengharapkan angan-angan yang kosong dan membohongi diri. Ini bukan menyerah diawal, tapi justru menyerah hampir diakhir, lebih baik daripada tidak menyerah sama sekali dan terus mengharapkan sistem yang keliru.

Kita harus belajar dari kerajaan-kerajaan dan kesultanan nusantara terdahulu yang hidup dengan sistem monarki, di mana masalah terbesarnya adalah penjajahan dari luar. Sedangkan masalah kita dengan demokrasi adalah penjajahan dari luar dan dalam.

Sebuah perspektif yang menarik. Tapu bagaimana menurut anda?
loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih