Monday, June 8, 2015

Surat Sultan Aceh Kepada Pemerintahan Turki Utsmani Tahun 1869

Manuskrip surat Sultan Aceh kepada Khilafah Turki Utsmani
Sebuah manuskrip di Istanmbul Turki menguak sepotong sejarah tentang hubungan antara Khilafah Turki Utsmani dengan Kerajaan Aceh yang memang dikenal memiliki hubungan yang erat.

Manuskrip itu berupa sebuah surat bertulis tangan yang dikirimkan oleh Sultan Aceh, Alauddin Manshur kepada Khalifah Utsmani tahun 1869 yang berisi permintaan agar seluruh warga Aceh diakui sebagai warga Utsmani.

Seperti diketahui, pada tahun 1565 dimulailah apa yang disebut sebagai ekspedisi Khilafah Utsmaniyah ke Aceh. Saat itu, Khilafah Utsmaniyah berusaha mendukung Kesultanan Aceh yang bertempur melawan Portugis di Malaka.

Ekspedisi dilancarkan setelah dikirimnya duta oleh Sultan Alauddin al-Qahhar (1539–1571) kepada Sultan Suleiman Al-Qanuni pada tahun 1564, atau bahkan sekitar tahun 1562 yang meminta dukungan Turki kepada Aceh kala melawan Portugis.

Setelah wafatnya Suleiman al-Qanuni pada tahun 1566, putranya Sultan Selim II memerintahkan pengiriman armada ke Aceh. Sejumlah prajurit, pembuat senjata, dan insinyur diangkut oleh armada tersebut, bersama dengan pasokan senjata dan amunisi yang melimpah. Armada pertama terdiri atas 15 dapur yang dilengkapi dengan artileri, namun dialihkan untuk memadamkan pemberontakan di Yaman. Akhirnya, hanya 2 kapal yang tiba antara tahun 1566–1567, namun sejumlah armada dan kapal lain menyusul. Ekspedisi itu dipimpin oleh Kurdoglu Hizir Reis. Orang Aceh membayar kapal tersebut dengan mutiara, berlian, dan rubi. Pada tahun 1568, Aceh menyerang Malaka yang tengah diduduki Portugis, meskipun Turki tak nampak ikut serta secara langsung.

Usmaniyah mengajari Aceh bagaimana membuat meriam, yang pada akhirnya banyak diproduksi. Dari awal abad ke-17, Aceh dapat berbangga akan meriam perunggu ukuran sedang, dan sekitar 800 senjata lain seperti senapan putar bergagang dan arquebus.

Merunut sejarah dari awal, pada sekitar abad ke-16, menurutnya, Aceh kala itu sedang dalam keadaan genting. Kejayaan Kerajaan Samudera Pasai telah runtuh. Akhirnya, kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya membentuk federasi dan mendirikan kerajaan baru bernama Kerajaan Aceh Darussalam. Keadaan genting ini ditambah dengan datangnya tentara Portugis ke wilayah ini. Untuk itu, demi memperkuat posisinya di mata dunia, Kerajaan Aceh berinisiatif mencari dukungan pada kerajaan Islam yang terbesar di dunia, yaitu Turki Usmani atau yang dikenal dengan Dinasti Ottoman. Aceh mencari sekutu yang kuat untuk menghadapi Portugis yang datang ke wilayahnya.

Hal ini diperjelas dengan sebuah buku tulisan peneliti sosiologi Muslim dari Istanbul, Turki, yang bernama Dr Mehmet Ozay. Ia menulis sejarah hubungan dua kerajaan ini pada bukunya yang baru diluncurkan pada 26 Desember dengan judul Kesultanan Aceh dan Turki-Antara Fakta dan Legenda.

Kapal-kapal Turki Utsmani merapat di wilayah pantai barat Sumatera
(Samudera Hindia) pada abad ke-XVI
Dua wilayah yang terpisahkan oleh ribuan kilometer jaraknya ini menjalin suatu hubungan atas dasar kesamaan ideologis dan agama. Persekutuan Aceh-Turki Utsmani secara tak resmi sudah ada sejak tahun 1530-an di saat Sultan Alauddin al-Qahhar berkeinginan mengembangkan hubungan tersebut, untuk mencoba mengusir Portugis dari Malaka, dan memperluas kekuasaannya di Sumatera. Menurut Fernão Mendes Pinto, Sultan Aceh merekrut 300 prajurit Utsmaniyah, beberapa orang Abesinia dan Gujarat, serta 200 saudagar Malabar untuk menaklukkan Tano Batak pada tahun 1539.

Setelah tahun 1562, Aceh nampaknya sudah menerima bala bantuan Turki yang memungkinkannya menaklukkan Kerajaan Aru dan Johor pada tahun 1564.

Dalam buku Kesultanan Aceh dan Turki-Antara Fakta dan Legenda tersebut dijelaskan, bahwa sultan ketiga Kerajaan Aceh Darussalam, yaitu Sultan Ali Mughayat Syah al-Qahhar, melakukan tindakan monumental kala itu.

Sang sultan mengirimkan utusan, di antaranya, bernama Omar dan Hussain, untuk menemui pejabat Kesultanan Ottoman pada 7 Januari 1565 dengan membawa sejumlah besar komoditas berharga ke Konstantinopel. “Peristiwa tersebut dikenal dengan lada sicupak,” tulis intelektual Muslim ini.
Saat utusan Aceh tiba di Konstantinopel pada 1565, Sultan Turki Usmani pada saat itu, Sulaiman, sedang memimpin pasukan dalam peperangan melawan Hungaria di medan perang Szigetwar di Eropa Timur.

Menanti masa berlangsungnya peperangan tersebut serta mangkatnya Sultan Sulaiman menyebabkan utusan Aceh itu menghabiskan waktu lebih lama di Konstantinopel.

Dengan usaha sendiri, mereka menyewa tempat dan menafkahi diri mereka sendiri dengan menjual komoditas yang mereka bawa bersama dengan hadiah yang akan dipersembahkan kepada sultan.
“Setelah Selim II, putra Sultan Sulaiman, selesai dilantik, barulah utusan Aceh memperoleh kesempatan untuk melakukan kunjungan resmi ke Istana, yakni dua tahun setelah kedatangan mereka di Turki,” tulis Ozay.

Untuk menafkahi diri mereka selama berada di Turki, mereka terpaksa menjual semua komoditas lada yang mereka miliki, termasuk bagian yang sebenarnya telah mereka niatkan untuk dihadiahkan kepada Sultan.

Yang tersisa di tangan mereka hanyalah secupak (segenggam) dan itulah yang dapat mereka tawarkan kepada sultan yang baru saja naik takhta. Dalam pertemuan resmi tersebut, sultan Turki Usmani memutuskan untuk mengupayakan bantuan militer ke Aceh yang di antaranya termasuk sebuah meriam yang secara simbolis dinamakan lada sicupak.

Menarik juga untuk mencari tahu apakah utusan Aceh tersebut ada yang membuat tulisan mengenai kehidupan, pengalaman, pengamatan mereka, dan lain-lain selama mereka menghabiskan waktu yang cukup lama di Konstantinopel. Mengenai hal ini, masih perlu untuk ditelusuri dan diungkap.

Peristiwa lada sicupak ini meningkatkan hubungan politik-militer antara kekuatan Timur Tengah dan mitranya di Asia Tenggara. Upaya sultan Aceh tersebut sangat berpengaruh hingga mengalihkan perhatian Konstantinopel dari Samudera Hindia wilayah barat ke Sumatra, Asia Tenggara.

Meriam-meriam milik Turki Utsmani dan Aceh dilucuti oleh Belanda
setelah Belanda menduduki Aceh tahun 1874 

[Picture by: London News]
Sultan Turki Ottoman tidak meminta Aceh supaya mengirim upeti tahunan yang biasanya diminta dari masing-masing negara pengikut sebagaimana lazimnya tradisi pada masa itu.
“Bantuan ini bukanlah semacam belas kasihan yang diberikan oleh pusat kekuasaan di Istanbul, tetapi suatu pertimbangan politik secara khusus sebagai hibah politik kepada Kesultanan Aceh untuk menyempurnakan kedaulatannya,” tulisnya.

Meriam Lada Sicupak
Setelah menerima kedatangan rombongan dari Aceh walau hanya menyerahkan sedikit lada saja, mereka mendapatkan kepercayaan dari Sultan Turki Usmani saat itu, yakni Selim II.

Dia setuju untuk mengirimkan bantuan berupa tentara dengan rombongan beberapa kapal ke Aceh. Dalam penyerahan secara simbolisnya, peneliti sosiologi Muslim dari Turki, Dr Mehmet Ozay, menulis bahwa Sultan Turki menyerahkan sebuah meriam sebagai simbolis pengiriman bantuan. “Meriam tersebut dikenal sebagai meriam Lada Sicupak,” tulisnya.

Rombongan yang dikirimkan oleh Sultan Turki tersebut tidak sepenuhnya bekerja untuk melakukan peperangan langsung melawan Portugis, seperti yang dibutuhkan Aceh.

Namun, mereka juga membuat lembaga pendidikan militer dan melatih rakyat serta pasukan Aceh agar bisa menguasai taktik dan strategi peperangan yang andal. Mereka juga mengajarkan rakyat Aceh untuk membuat meriam dan membuat kapal yang bisa menampung meriam di dalamnya.
Karya lama Aceh berjudul Hikayat Meukuta Alam yang disampaikan sebagai cerita lisan tentang hubungan Aceh dan Turki menegaskan, Meriam Lada Sicupak tersebut dilindungi di Aceh sampai pecah Perang Belanda pada 1874. Ada beberapa artikel yang menceritakan meriam ini yang diterbitkan pada pertengahan abad ke-20 di Istanbul.

Sayangnya, bukti simbolis hubungan antara Aceh dan Turki itu, menurutnya, nasibnya sungguh menyedihkan. Selama fase kedua invasi Belanda di Banda Aceh, meriam ini dan beberapa meriam lainnya diambil oleh tentara Belanda dan kemudian dikirim bersama dengan artefak-artefak lainnya ke negara asal mereka di Eropa.

Meriam-meriam ini sebenarnya bukan hanya aset dan warisan budaya yang tak ternilai harganya, tetapi juga merupakan bukti konkret hubungan antara Aceh dan Turki. Barangkali, ini pula mengapa bendera Aceh hingga saat ini menggunakan lambang bulan bintang sebagai bentuk eratnya hubungan kedua wilayah seideologis ini.
loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih