Friday, January 16, 2015

Akankah Turki Kembalikan Kejayaan Dinasti Utsmani...?

Lebih kurang 600 tahun lamanya, yaitu dari 27 Juli 1299 hingga 29 Oktober 1923, dinasti khilafah Turki Utsmani (Ottoman) tegak berdiri dan menguasai sebagian besar daratan Eropa dengan panji bulan bintangnya yang megah.

Kekuasaan Utsmani membentang dari daratan eropa dan pengaruhnya tersebar hingga ke negeri-negeri di Afrika, Asia hingga Asia Tenggara, termasuk kepulauan Melayu.

Puncak kekuasaan mencapai masa kejayaan pada masa Sultan Sulaiman Al-Qanuni yang memerintah dari tahun 1520 M hingga 1566 M. Kekuatan ekonomi dan militer Ottoman tak terbendung di saat Eropa sedang berada di abad pertengahan yang kelam.

Sejak keruntuhannya pada tahun 1923, yang menandakan keruntuhan khilafah Islam terakhir, banyak pihak akan kembali merindukan kehadiran khilafah Islamiyah semacam Turki Utsmani. Kerinduan ini ditandai dengan lahirnya kelompok-kelompok Islam yang memperjuangkan khilafah di tengah terpuruknya kondisi umat.

Di Turki sendiri, sebagaimana dikutip dari The New York Times [5/12], sebagian rakyat Turki merindukan kejayaan Kekhalifahan Ottoman yang sempat menjadi adikuasa dunia. ''Rakyat Turki kembali tertarik dengan kepahlawanan dan kejayaan di era Kesultanan Turki Usmani. Mereka kini merasa memilikinya lagi,'' ungkap Direktur Istana Topkapi, Ilber Ortayli, yang juga penjaga kediaman mewah Sultan Ottoman, kepada The New York Times, Sabtu (5/12).

Dari hari ke hari, kesadaran rakyat Turki untuk mengenang kejayaan Kekaisaran Ottoman terus meningkat. Anak-anak muda di negara itu juga mulai menghidupkan kembali semangat kejayaan Turki Usmani. Melalui kaus yang mereka pakai, generasi muda Turki mengampanyekan keinginannya untuk kembali merebut kejayaan yang pernah dicapai di masa kekhalifahan.

"Kekaisaran Turki Usmani pernah menguasai dua pertiga dunia, namun tak pernah memaksa siapa pun untuk mengganti bahasa atau agama pada kelompok minoritas,'' papar Egeman Bagis, menteri untuk Hubungan Uni Eropa. ''Rakyat Turki bisa membanggakan warisan Turki Usmani itu.''

Beberapa indikasi juga menunjukkan bahwa kerinduan akan Turki Utsmani itu benar-benar nyata. Beberapa di antaranya adalah:

1. Pelajaran Bahasa Arab Ottoman Wajib di Sekolah
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Senin (8/12/2014), berjanji akan menjadikan pelajaran tulisan Arab dan bahasa Ottoman menjadi pelajaran wajib di sekolah-sekolah.

Pendiri Turki modern, Mustafa Kemal Ataturk menghapuskan bahasa Ottoman pada 1928 dan menggantikan huruf Arab yang digunakan dengan huruf Latin. Ataturk juga melakukan pemurnian pengaruh bahasa Arab, Persia dan Yunani untuk membentuk bahasa Turki yang murni untuk digunakan warga negeri itu.

Dewan Pendidikan Turki, yang sebagian besar anggotanya adalah pendukung pemerintahan Erdogan, memutuskan untuk mewajibkan pelajaran bahasa Ottoman di sekolah-sekolah agama dan menjadikannya pelajaran pilihan di sekolah-sekolah umum.

Erdogan menegaskan pelajaran bahasa Ottoman itu diperlukan untuk memperbaiki hubungan dengan "akar bangsa Turki", di mana sebagian besar warga negeri itu tak bisa lagi membaca tulisan di batu nisan para leluhur yang ditulis dalam tulisan Arab.

Presiden Turki sambut Presiden Palestina dengan gaya Ottoman
"Ada yang tidak menginginkan pelajaran ini dan itu adalah bahaya besar. Suka atau tidak, bahasa Ottoman akan dipelajari dan diajarkan di negeri ini," ujar Erdogan di hadapan sidang dewan keagamaan di Ankara.

"Ini bukan bahasa asing. Bahasa ini adalah sebuah bentuk bahasa Turki yang tidak akan pernah hilang dimakan usia," lanjut Erdogan.

2. Sambutan al Turki Utsmani
Demonstran di Perancis dengan
pakaian tentara perang salib
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyambut kedatangan Presiden Palestina Mahmud Abbas dalam sebuah resepsi besar dengan gaya Kekhalifahan Turki Utsmaniyah, lengkap dengan para prajurit berseragam klasik tentara Ottoban abad ke XVI.

Ada 16 jenis seragam yang ditunjukkan para prajurit tersebut, menggambarkan pendirian Turki sejak 200 tahun sebelum Masehi, hingga keruntuhan khilafah di tahun 1920.

Acara itu dilaksanakan di Ak Saray, sebuah Istana Presiden yang terletak di luar Ankara. Istana ini diresmikan pada Oktober tahun lalu dengan menghabiskan dana 490 juta Euro.

21 Tembakan meriam menyambut presiden Palestina tersebut. Turki seakan ingin menunjukkan kepada dunia tentang kemegahan Utsmani yang berabad-abad menundukkan Eropa. Sebagian pihak menduga bahwa aksi tersebut merupakan tandingan terhadap aksi yang terjadi beberapa hari sebelumnya di Paris, yang mana beberapa orang berdemonstrasi anti Islam dengan memperagakan pakaian tentara Salib.

Video penyambutan Presiden Palestina tersebut dapat dilihat di bawah ini:


3. Foto Al-Fatih di ruang kerja Erdogan
Hal lain yang mengejutkan dunia maya adalah aksi Erdogan yang mengganti foto pendiri negara Republik Sekuler Turki, Mustafa Kemal Ataturk, di ruang kerjanya, dengan gambar wajah Sultan Muhammad Aal-Fatih.

Page Facebook Aljazeera Mesir pada sabtu 10 Januari 2015, memperlihatkan sebuah foto Presiden Turki Erdogan yang sedang duduk di ruangan kerjanya dan nampak terpampang di dinding lukisan wajah Sultan Muhammad al Fatih, yang sebelumnya merupakan foto tokoh sekuler Turki Mustafa Kemal.


loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih